Sanaa, LiputanIslam.com – Untuk kelima kalinya, Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah mengumumkan serangannya terhadap Bandara Ben Gurion Israel dan kapal perang Angkatan Laut AS di Laut Merah.
Angkatan Bersenjata Yaman pada hari Selasa (25/3) mengumumkan pihaknya telah menyerang Bandara Ben Gurion Israel dengan dua rudal, masing-masing rudal balistik Zulfiqar dan rudal hipersonik Palestine 2 . Serangan ini tercatat yang kelima kalinya dalam beberapa hari terakhir.
Angkatan Bersenjata Yaman menyatakan bahwa dua operasi militernya menyasar Bandara Ben Gurion dan kapal angkatan laut AS di Laut Merah, yang mereka sebut sebagai “agresif.”
Pada hari Minggu, pasukan Yaman menyerang Bandara Ben Gurion untuk keempat kalinya dalam 72 jam, menyusul pengumuman pada dini hari Sabtu bahwa mereka telah menyerang untuk ketiga kalinya dalam 48 jam.
Militer Yaman dalam pernyataannya menegaskan bahwa pasukan rudalnya menargetkan Bandara Ben Gurion di wilayah Jaffa dengan dua rudal balistik, salah satunya adalah rudal Zulfiqar dan yang lainnya adalah rudal hipersonik Palestine 2.
Pasukan Yaman memastikan operasi tersebut “berhasil mencapai tujuannya” dan dilakukan “sebagai bentuk dukungan kepada rakyat Palestina dan perlawanan mereka yang gagah berani.”
Mereka menegaskan kembali komitmennya untuk terus “mencegah navigasi Israel dan menyerang wilayah Israel” hingga agresi berhenti dan blokade di Jalur Gaza dicabut.
Sebagai bentuk solidaritas dengan Gaza dalam menghadapi genosida Israel, pasukan Yaman telah menyerang kapal kargo milik Israel atau yang terkait dengannya di Laut Merah atau di mana pun yang dapat dijangkau oleh rudal dan drone sejak November 2023.
Pasukan Yaman menghentikan serangannya menyusul perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza pada bulan Januari, namun kemudian melanjutkan serangan ketika Tel Aviv melanjutkan genosida di Jalur Gaza.
Didukung penuh oleh AS, Israel telah melakukan genosida di Gaza sejak 7 Oktober 2023, yang menyebabkan lebih dari 163.000 warga Palestina gugur dan terluka. Sebagian besar korban itu adalah anak-anak dan wanita. Selain itu, lebih dari 14.000 orang hilang.
Terkait dengan serangan AS terhadap Yaman, Angkatan Bersenjata Yaman melaporkan bahwa pasukan maritim, pasukan rudal dan pasukan drone Yaman telah menyerang “sejumlah kapal perang musuh di Laut Merah pada hari Senin, selain kapal induk AS USS Harry S. Truman, dengan sejumlah rudal balistik dan jelajah serta pesawat tak berawak.”
Mereka menegaskan bahwa operasi di Laut Merah dilakukan “sebagai tanggapan atas agresi Amerika terhadap Yaman dan pembantaian yang dilakukannya terhadap warga sipil di Sanaa (tengah) dan Saada (utara).”
Menurut pernyataan tersebut, pasukan Yaman terlibat konfrontasi selama berjam-jam dengan kapal perang AS di Laut Merah, yang menandai “bentrokan kedua dalam waktu 24 jam.”
Kelompok tersebut menyatakan bahwa bentrokan tersebut berhasil “menggagalkan serangan udara yang tengah dipersiapkan musuh untuk dilancarkan terhadap Yaman,” menurut sumber yang sama, tanpa komentar ada segera dari AS mengenai perkembangan tersebut.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump mengaku telah memerintahkan militer negaranya untuk melancarkan “serangan besar” terhadap Yaman, dan mengancam akan “memusnahkan” kelompok pejuang Ansarullah.
Menanggapi ancaman itu, Ansarullah Kamis lalu menegaskan bahwa ancaman Trump “tidak akan menghalangi mereka untuk melanjutkan dukungan kepada Gaza”.
Hingga Senin malam, telah terjadi puluhan serangan udara AS di Yaman, yang mengakibatkan kematian 83 orang dan cedera pada lebih dari 100 lainnya, termasuk wanita dan anak-anak, menurut pernyataan pihak Yaman. (mm/raialyoum)