Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menegaskan bahwa seandainya Iran menghendaki senjata nuklir maka AS takkan dapat mencegahnya. Dia juga menyebut ajakan negosiasi Trump kepada Iran hanyalah trik belaka untuk mengelabui opini publik.
“Ketika Presiden AS mengatakan, ‘kami siap berundin dengan Iran’, maka dia berupaya menciptakan kesan bahwa mereka mengupayakan dialog dan perdamaian sedangkan Iran menolaknya. Tapi mengapa Iran menolaknya? Mereka hendaklah kembali dan melihat tingkah laku mereka,” ungkap Ayatullah Khamenei dalam pertemuan momen bulan suci Ramadhan dengan para mahasiswa, aktivis dan akademikus dari berbagai penjuru Iran, Rabu (12/3).
“Kita sudah bertahun-tahun duduk dan melakukan perundingan. Lalu datang orang ini sendiri (Trump), yang kita hentikan pembicaraan dengannya. Dia mengenyahkan dan mengoyak perjanjian yang telah ditandatangi, dilaksakan dan disempurnakan. Ketika kita mengetahui bahwa mereka tidak konsisten, lantas untuk apa berunding dengan mereka. Karena itu, ajakan mereka untuk berunding tak lain hanyalah tipu daya untuk menyesatkan opini publik,” terangnya.
Dia menambahkan, “Seandainya kita hendak memroduksi senjata nuklir, AS takkan sanggup mencegah kita. Tapi kita memang tak berniat memiliki senjata nuklir.”
Dia juga menegaskan, “Kami tak menghendaki perang, tapi jika AS dan para anteknya bertindak ceroboh maka balasan Iran akan telak.”
Pemimpin Besar Iran juga memastikan negara ini memiliki kekuatan besar di berbagai bidang.
“Tak seperti pandangan pendek dan dangkal musuh-musuhnya, Iran kini lebih kuat daripada tahun lalu, dan tidak melemah,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan bahwa gugurnya para tokoh pejuang terkemuka sama sekali tak berarti kemunduran dan kelemahan.
“Di tahun ketiga Hijriah, Nabi Besar saw kehilangan tokoh sebesar Hamzah dalam Perang Uhud. Bukan hanya Hamzah, melainkan juga sejumlah ksatria lain yang gagah berani. Meski demikian, pada tahun ke-4 dan ke-5 Hijriah, Nabi saw justru lebih kuat daripada tahun ke-3,” paparnya.
Dia juga menyebutkan bahwa kekuatan umat terletak pada dua prinsip; pertama, konsisten pada tajuan dan prinsip; kedua, upaya dan kerja keras yang berkesinambungan.
Ayatullah Khamenei mengatakan, “Jika ada dua faktor ini pada umat manapun maka ketiadaan para tokoh, meskipun merupakan suatu kerugian, tidak akan menjadi pukulan bagi proses gerakan secara umum.” (mm/alalam)