Hmeimim, LiputanIslam.com – Ribuan warga pengungsi Alawi/Alawite berlindung di pangkalan udara Hmeimim milik Rusia di pesisir Suriah setelah terjadi gelombang aksi pembantaian yang menewaskan lebih 1.000 warga sipil di bagian barat negara itu, menurut laporan Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR).
“Ribuan warga sipil Alawi, yang melarikan diri dari pembantaian di kota Jableh dan desa-desa sekitarnya, mencari perlindungan di pangkalan militer Hmeimim dan sekitarnya,” kata direktur SOHR Rami Abdel Rahman kepada AFP, Selasa (11/3).
Menurut SOHR, 1.225 warga sipil, yang sebagian besarnya adalah warga Alawi, terbunuh sejak 6 Maret, ketika ketegangan meletus di sebuah desa yang mayoritas penduduknya adalah warga Alawi di pedesaan Latakia menyusul penangkapan seorang buronan oleh pasukan keamanan rezim Hay’at Tahrir Shams (HTS) pimpinan Ahmad al-Sharaa alias Abu Muhammad al-Julani.
Ketegangan segera meningkat menjadi bentrokan setelah orang-orang bersenjata Alawi melepaskan tembakan terhadap pasukan keamanan di beberapa lokasi, menurut SOHR. Pihak berwenang mengklaim orang-orang bersenjata itu adalah loyalis Presiden terguling Bashar al-Assad.
Menurut SOHR, keluarga yang berlindung di pangkalan Rusia menolak untuk pergi dan kembali ke rumah mereka, karena takut dianiaya atau terjadi penghancuran rumah mereka.
SOHR mencatat bahwa warga yang terlantar menderita kekurangan makanan, pasokan dasar, dan peralatan medis yang parah, di samping memburuknya kondisi layanan, dan banyak keluarga lainnya “bersembunyi di pegunungan dan hutan.”
Di pintu masuk pangkalan tersebut, seorang reporter AFP melihat konvoi Bulan Sabit Merah Suriah yang terdiri dari sedikitnya lima kendaraan, mengevakuasi tiga orang yang terluka, termasuk dua wanita.
Reporter itu mencatat bahwa orang-orang yang mengungsi mengorganisasikan demonstrasi di depan pangkalan tersebut, menuntut perlindungan internasional dan meneriakkan yel-yel, “Rusia, Rusia.”
Laporan lain menyebutkan bahwa ketenangan penuh waspada telah kembali ke kota-kota dan desa-desa di pesisir Suriah setelah terjadi gelombang kekerasan dan pembantaian di wilayah tersebut.
Kementerian Pertahanan Suriah mengumumkan berakhirnya “operasi militer,” namun para saksi mata dari daerah-daerah seperti pedesaan Safita dan desa-desa di pedesaan Baniyas dan Qardaha melaporkan bahwa kelompok-kelompok bersenjata masih berkeliaran, menghalangi kembalinya para penyintas ke desa-desa mereka dan mengganggu pengiriman bantuan kemanusiaan.
Kelompok-kelompok bersenjata bahkan menyerbu desa Salata dan melepaskan tembakan tanpa pandang bulu, sehingga memaksa banyak keluarga mengungsi ke alam bebas.
Surat kabar Al-Akhbar mengutip pernyataan saksi mata setempat bahwa kelompok-kelompok bersenjata membakar rumah-rumah desa dan menjarah toko-toko, sehingga banyak penduduk menolak untuk kembali ke desa mereka karena takut akan serangan lebih lanjut.
Al-Akhbar melaporkan bahwa meskipun pihak berwenang meminta penduduk untuk kembali, sebagian besar menolak karena kurangnya langkah-langkah keamanan. Di daerah Wadi al-Uyun, penduduk dapat terhindar dari serangan kelompok bersenjata berkat perjanjian dengan Keamanan Umum, yang memungkinkan mereka berupaya memulihkan layanan dasar. (mm/raialyoum/alakhbar)