Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei menyatakan bahwa desakan negara adidaya AS dan sekutunya untuk mengadakan perundingan dengan Iran sama sekali tidak bertujuan untuk menyelesaikan masalah.
Ayatullah Khamenei menyatakan demikian dalam sebuah pertemuan dengan sejumlah pejabat tinggi Iran di Teheran pada hari Sabtu (8/3), sembari secara tidak langsung menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai berandal yang ingin memaksakan kehendak dan menancapkan tongkat hegemoni AS terhadap Iran.
Seperti diketahui, Trump telah melontarkan pernyataan bernada intimidatif terkait dengan perundingan nuklir Iran.
“Mengenai kebijakan luar negeri, alhamdulillah, Kemlu kita aktif. Mengenai negara-negara tetangga, apa yang telah beliau (Menlu Abbas Araghchi) jelaskan tadi merupakan masalah penting. Mengenai negara-negara lain non-jiran juga begitu. Namun demikian, ada satu dua poin, yaitu bahwa beberapa negara/rezim berandal… Sungguh, saya tak punya istilah yang lebih tepat dari “berandal” untuk menyebut sebagian tokoh dan pemimpin asing itu,” ujarnya.
Dia melanjutkan, “Sebagian negara berandal bersikukuh untuk negosiasi. Negosiasi mereka bukan untuk mensolusi masalah, melainkan untuk berdominasi. (Mereka bergumam:) ‘Kita berunding supaya kita dapat memaksakan kehendak kepada pihak lawan dalam perundingan. Jika pihak lawan menerima maka alangkah baiknya, sedangkan jika tidak maka kita dapat menebar sensasi bahwa mereka menjauh dari meja perundingan.’ Negosiasi bagi mereka merupakan koridor untuk melontarkan ekspektasi-ekspektasi baru.”
Pemimpin Besar Iran juga mengatakan, “Isunya bukan hanya soal nuklir untuk kemudian mereka berbicara soal nuklir. Ada ekspektasi-ekspektasi baru yang mereka kemukakan, yang sudah pasti tidak akan dipertimbangkan oleh Iran, mengenai daya pertahanan Iran, dan kemampuan negara ini di gelanggang internasional. ‘Jangan berbuat ini, jangan menemui si fulan, jangan melakukan proyek anu, jangan memproduksi anu, jarak jangkau rudal jangan lebih dari sekian!’ Mana ada orang (Iran) sudi menerima desakan demikian.”
Sementara itu, Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dalam sesi parlemen terbuka parlemen mengatakan Iran tidak akan menunggu pesan atau surat apa pun dari AS.
Beberapa hari sebelumnya, Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News mengaku telah mengirim surat kepada Ayatullah Ali Khamenei, dan memperingatkan Iran untuk membuka pembicaraan tentang kesepakatan nuklir atau akan ditangani secara militer.
Qalibaf mengatakan, “Kami tidak akan menunggu surat apa pun dari AS, dan percaya bahwa dengan menggunakan kapasitas dalam negeri yang sangat besar dan peluang untuk mengembangkan hubungan luar negeri dengan negara lain, kami dapat mencapai posisi yang membuat musuh tidak punya pilihan selain mencabut sanksi dalam kerangka negosiasi yang berkelanjutan dengan pihak-pihak yang tersisa di JCPOA (perjanjian nuklir Rencana Aksi Komprehensif Bersama).”
Qalibaf juga menyebutkan bahwa perilaku Trump terhadap negara lain menunjukkan bahwa seruannya untuk berunding hanyalah “tipuan” yang dimaksudkan untuk “melucuti” Iran.
Dia menegaksan bahwa negosiasi, yang disertai dengan ancaman, penghinaan, dan tuntutan konsesi baru, tidak akan mengarah pada pencabutan sanksi.
“Hari ini, lebih dari sebelumnya, telah jelas bagi bangsa Iran bahwa pencabutan sanksi dapat dilakukan melalui penguatan Iran dan netralisasi larangan,” pungkasnya. (mm/irib/alalam)