Latakia, LiputanIslam.com – Lebih dari 70 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka di Suriah akibat pertempuran sengit antara militan Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang berkuasa di satu pihak dan kelompok oposisi bersenjata di pihak lain di wilayah barat negara ini.
Observatorium Suriah untuk HAM (SOHR) mengatakan dalam sebuah postingan di X pada hari Jumat (7/3) bahwa telah jatuh sejumlah korban tewas di wilayah pesisir Suriah setelah militan HTS disergap.
Di kota pesisir Jableh dan desa-desa yang berdekatan di Provinsi Latakia, 48 orang tewas dalam pertempuran, ungkap lembaga pemantau perang yang berbasis di Inggris itu.
Menurut SOHR, serangan terkoordinasi itu adalah yang terbesar terhadap penguasa baru Suriah sejak Presiden Bashar al-Assad terguling pada awal Desember tahun lalu.
Setidaknya 16 militan HTS tewas dalam bentrokan pada hari Kamis di provinsi Mediterania Latakia, yang dihuni oleh kaum Alawi dan Muslim Syiah.
Wilayah itu adalah rumah bagi pangkalan udara Hmeimim – pangkalan strategis Suriah yang dioperasikan oleh Rusia.
Operasi kelompok oposisi itu dilakukan setelah sebelumnya lembaga pemantau itu melaporkan serangan yang dilancarkan oleh helikopter ke desa Beit Ana dan hutan di sekitarnya serta serangan artileri ke desa tetangga.
Pemimpin Alawite dalam sebuah pernyataan di Facebook menyerukan “unjuk rasa damai” sebagai tanggapan atas serangan helikopter, yang mereka katakan telah menargetkan “rumah-rumah warga sipil.”
Otoritas HTS memberlakukan jam malam di Latakia, kota pelabuhan Tartus, dan kota Homs di wilayah barat.
Ketegangan meletus setelah penduduk Beit Ana, tempat kelahiran Suhail al-Hassan, mantan komandan tinggi tentara Suriah di bawah Assad, mencegah militan HTS menangkap seseorang di desa tersebut.
Hassan dilaporkan memimpin divisi misi khusus elit yang dikenal sebagai Pasukan Harimau. (mm/presstv)