Gaza, LiputanIslam.com – Juru bicara Hamas Hazem Qassem, Kamis (6/3), menyatakan bahwa ancaman yang dikeluarkan oleh Presiden AS Donald Trump terhadap Hamas “mempersulit masalah yang terkait dengan perjanjian gencatan senjata dan mendorong pemerintah pendudukan (Israel) untuk bersikap lebih ketat.”
Trump dalam sebuah posting di platform Truth Social pada Rabu malam mengeluarkan apa yang disebutnya sebagai “peringatan terakhir” kepada gerakan Hamas, dengan mengancam akan mengakhiri kekuasaan faksi pejuang ini jika tidak segera membebaskan semua tawanan Israel dan memulangkan tawanan yang telah meninggal.
Qassem dalam siran pers mengatakan, “Ada kesepakatan yang ditandatangani, dan Washington menjadi mediator di dalamnya, dan itu mencakup pembebasan semua tahanan dalam tiga tahap, dan Hamas telah melaksanakan apa yang harus dilakukannya pada tahap pertama, sementara Israel menghindari tahap kedua.”
Qassem menekankan bahwa jika Trump tertarik pada pembebasan tawanan Israel maka harus menekan Perdana Menteri pemerintah pendudukan Benjamin Netanyahu untuk memulai negosiasi pada fase kedua perjanjian Gaza.
“Pemerintah AS diharuskan menekan pendudukan untuk memasuki tahap kedua perundingan, sebagaimana ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata,” tegasnya.
Qassem memperingatkan bahwa rezim pendudukan Israel akan mengeksploitasi pernyataan Trump “untuk meningkatkan blokade Gaza dan memperketat kebijakan yang melaparkan penduduknya.”
Minggu pagi lalu, tahap pertama perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza berakhir tanpa memasuki perundingan untuk tahap kedua, yang seharusnya dimulai pada hari ke-16 tahap pertama perjanjian (3 Februari).
Namun Netanyahu menghalangi kesepakatan tersebut dengan meminta perpanjangan tahap pertama kesepakatan pertukaran untuk pembebasan sebanyak mungkin tahanan Israel di Gaza, tanpa memberikan imbalan atau melengkapi hak-hak yang dibebankan padanya dalam perjanjian periode sebelumnya. Permintaan ini ditolak oleh faksi-faksi Palestina, yang dipimpin oleh gerakan Hamas.
Hazem Qassem mengatakan bahwa para mediator terus melanjutkan kontak mereka untuk memaksa Israel memulai negosiasi pada tahap kedua perjanjian gencatan senjata Gaza, yang telah ditolak oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Para mediator (Mesir, Qatar dan AS) melanjutkan kontak mereka untuk memastikan pelaksanaan tahap-tahap yang tersisa dari perjanjian gencatan senjata, dan untuk mewajibkan pendudukan untuk memulai negosiasi untuk tahap kedua perjanjian tersebut,” terangnya.
Dia juga mentakan, “Hamas menegaskan komitmennya terhadap semua tahapan perjanjian, dan kami berharap kontak para mediator akan menghasilkan penyelesaian implementasi tahapan perjanjian oleh pendudukan Israel.” (mm/alalam/raialyoum)