Sanaa, LiputanIslam.com – Gerakan perlawanan Ansarullah di Yaman mengeluarkan peringatan keras perihal agresi militer Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) terhadap Jalur Gaza, dan menjanjikan kesiapan pasukan Yaman untuk meningkatkan tindakan terhadap kepentingan AS di kawasan.
Hazem al-Asad, anggota Biro Politik Ansarullah, menegaskan bahwa gerakan ini “siap untuk terlibat dalam perang komprehensif yang menyasar kepentingan AS di kawasan” jika agresi Zionis Israel berkelanjutan.
Dia memperingatkan AS agar tidak mendukung atau melindungi Israel dalam serangannya terhadap Gaza atau agresi apa pun terhadap Yaman.
Sejalan dengan sikap tersebut, Nasr al-Din Amir, pejabat tinggi Ansarullah lainnya, mengatakan, “Semua mata mengawasi Gaza, dan jari-jari siap menekan pelatuk.”
Dia menekankan bahwa rudal, pesawat nirawak, dan semua unit militer Angkatan Bersenjata Yaman dalam keadaan siap siaga penuh.
“Kami telah membuktikan diri dalam uji coba sebelumnya,” tegasnya, mengacu pada serangan gencar oleh pasukan Yaman terhadap target-target vital Israel dan AS di di seluruh kawasan Timur Tengah serta kapal-kapal Israel atau kapal-kapal yang membawa pasokan ke wilayah Palestina pendudukan menyusul dimulainya perang genosida rezim Israel terhadap Gaza pada Oktober 2023.
Menanggapi operasi militer Yaman tersebut, AS, Inggris, dan rezim telah menjadikan Yaman, termasuk kota pelabuhan al-Hudaydah di bagian barat yang menjadi urat nadi Yaman serta infrastruktur sipil dan pertahanannya di tempat lain, sebagai target serangan mematikan.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menegaskan bahwa rezimnya akan terus menyerang Yaman, dengan alasan ancaman yang ditimbulkannya terhadap sumber pasokan maritim Tel Aviv.
Dia juga menekankan kerja sama dengan AS, memastikan bahwa rezim Zionis akan bertindak dengan “kekuatan, tekad, dan kecanggihan” terhadap Yaman.
Yaman mengurangi serangannya setelah kesepakatan gencatan senjata yang diharapkan dapat mengakhiri perang Israel, yang mulai berlaku pada bulan Januari.
Israel berulang kali melanggar kesepakatan tersebut, menewaskan lebih banyak warga Palestina selain lebih dari 48.000 orang yang telah dibunuhnya selama perang, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak.
Menanggapi pelanggaran tersebut, pemimpin Ansarullah Sayid Abdul-Malik al-Houthi belum lama ini memperingatkan bahwa jika kekejaman Israel berlanjut, maka “semua wilayah pendudukan akan diserang,” termasuk pusat ekonomi rezim di Tel Aviv. (mm/presstv)