Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam kata sambutannya pada upacara pemakaman dua pendahulunya, Sayid Hassan Nasrallah dan Sayid Safieddine di Beirut, Ahad (23/2), menegaskan bahwa Hizbullah pantang menerima hegemoni Amerika Serikat (AS) atas Lebanon, dan bahwa para pejuang perlawanan siap melawan Israel meskipun ada kesepakatan gencatan senjata.
“Kami di Lebanon tidak akan menerima thaghut Amerika memegang kendali di negara kami,” tegasnya dalam pidato yang ditayangkan di layar monitor raksasa dengan lautan pelayat.
“Kalian (AS) di ranah politik tidak akan pernah mendapatkan apa yang tidak kalian raih dalam perang…. Perlawanan tidak berakhir, melainkan berlanjut dengan eksistensi dan kesiapannya melawan Israel,” sambungnya.
Syeikh Qassem menjelaskan, “Perlawanan adalah prinsip dan merupakan pilihan iman dan politik kami selagi rezim pendudukan masih ada, dan kami memraktikkan hak kami dalam perlawanan sesuai perhitungan kami untuk kemasalahatan dan kondisi. Kami selanjutnya akan mendiskusikan hak kami menggunakan sebagian tentara Lebanon ketika kami mendiskusikan strategi pertahanan.”
Sekjen Hizbullah juga mengatakan, “Kami konsisten, sementara Israel tidak konsisten pada kesabaran kami, dan kami tidak membalas. Sesudah berakhirnya jeda penarikan (pasukan Israel) kami menjadi berhadapan dengan pasukan pendudukan dan agresi yang bernama satu titik atau lima titik. Pendudukan dan pemboman ini ke wilayah Lebanon ini bernama agresi, dan Israel tidak bisa melanjutkan pendudukan dan agresinya.”
Kepada AS dia menegaskan, “Kami katakan kepada Amerika, kalian dalam poliik tidak akan mencapai apa yang tidak kalian capai dalam perang. Jika kalian bergerak bebas sekarang dan menekan para pejabat di Lebanon, kalian tidak akan mencapai tujuan kalian karena para pejabat di Lebanon mengetahui keseimbangan kekuasaan. Karena itu, saya menyarankan kepada kalian untuk menghentikan konspirasi. Jangan menafsirkan kebijaksanaan kami sebagai kelemahan, karena jalannya panjang dan kami tidak akan menyerah.”
Mengenai Palestina, Syeikh Naim Qassem menandaskan, “Palestina adalah kompas kami, kami menyerukan pembebasannya, dan kami akan melawan proyek relokasi (penduduk Gaza) oleh Presiden Amerika Donald Trump. Kami akan meawannya dengan segenap kekuatan di kawasan. 160,000 syahid dan korban luka di Gaza adalah harga hakiki demi melanjutkan komitmen kami kepada janji.” (mm/raialyoum)