Washington, LiputanIslam.com – Tiga pejabat senior militer AS mengatakan kepada Fox News pada hari Sabtu (22/2) bahwa pasukan Ansarullah Yaman telah menembakkan rudal permukaan-ke-udara (surface-to-air missile /SAM) untuk pertama kalinya terhadap jet tempur F-16 AS dan sebuah pesawat nirawak pada tanggal 19 Februari.
Pesawat itu terbang di lepas pantai Yaman di atas Laut Merah ketika rudal itu ditembakkan, tapi tidak mengena pesawat.
Pasukan Yaman kubu Ansarullah itu juga menembakkan rudal SAM lainnya ke pesawat nirawak MQ-9 Reaper AS yang terbang di atas Yaman di luar wilayah kendali kelompok itu pada hari yang sama.
Peristiwa ini tercatat sebagai yang pertama kalinya di mana pasukan Yaman menembakkan rudal SAM ke jet tempur F-16 AS, dan ini merupakan peningkatan besar dalam interaksi militer yang sedang berlangsung antara pasukan Yaman dan pasukan AS, menurut para pejabat senior AS.
Di bawah pemerintahan Biden, militer AS mempertahankan kapal perangnya yang berpatroli di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, mengawal kapal-kapal komersial dan mencegah serangan terhadap mereka oleh pasukan Yaman.
Serangan pasukan Yaman dimulai tak lama setelah tentara Israel menginvasi Gaza, dan kemudian Komando Pusat AS meningkatkan serangannya terhadap pasukan Yaman dengan tujuan menghancurkan infrastruktur dan fasilitas penyimpanan senjata.
Kini terjadi polemik di tingkat tertinggi militer AS tentang cara terbaik untuk menghadapi pasukan Yaman, yang telah dicantumkan kembali oleh pemerintahan Trump ke dalam daftar teroris.
Perdebatannya sekarang adalah apakah lebih baik mengambil pendekatan “anti-terorisme” yang lebih tradisional dalam menangani kelompok tersebut, dengan serangan berkelanjutan yang menargetkan individu yang merencanakan dan melaksanakan serangan berkelanjutan, atau mengambil pendekatan yang lebih defensif dan terus menargetkan infrastruktur dan fasilitas penyimpanan senjata.
Fox News melaporkan bahwa penggunaan pendekatan anti-terorisme akan menjadi eskalasi besar dan beberapa orang mengatakan hal itu mahal pada saat sumber daya militer, termasuk drone MQ-9 Reaper, dialihkan ke perbatasan selatan.
Pada akhirnya, Gedung Putih harus membuat keputusan tentang kebijakan ini, menurut sumber yang sama.
Para pemimpin militer senior meyakini bahwa mungkin hanya masalah waktu sebelum rudal Houthi menyerang kapal Angkatan Laut AS, yang berpotensi menimbulkan korban jiwa dan kerusakan parah pada kapal induk dan kapal perusak yang telah berpatroli di Laut Merah sejak tak lama setelah serangan 7 Oktober. (mm/raialyoum)