Washington, LiputanIslam.com – Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa rencananya untuk Gaza bagus namun dia mengaku tidak akan memaksakannya, melainkan hanya sebatas merekomendasikannya.
Trump mengklaim bahwa Gaza hancur total sehingga “jika diberi kebebasan memilih, penduduknya akan pergi.”
Presiden AS menilai Gaza memiliki lokasi yang indah dan pengabaian Israel sebelumnya terhadap wilayah tersebut patut dipertanyakan.
Penghuni Gedung Putih ini beberapa hari lalu mengumumkan dirinya berkomitmen untuk membeli dan memiliki Gaza, sembari mengisyaratkan bahwa dia mungkin akan memberikan bagian dari jalur pantai itu kepada negara lain di Timur Tengah untuk membantu upaya rekonstruksi, tanpa menyebutkan negara mana.
Namun, dia kemudian segera membatalkan pembelian tersebut, dan mempertahankan gagasan untuk mengosongkan Jalur Gaza.
Menurutnya, hal itu akan mengubah Gaza menjadi lokasi yang baik untuk pembangunan di masa depan.
Hanya saja, gagasan mendadak itu menuai kritik dari dunia Arab dan internasional. Semua negara Arab menegaskan komitmen mereka kepada hak pengungsi Gaza pulang ke kampung halaman, dan menolak penggusuran. Negara-negara Barat dan sekutu Washington, juga menolak penggusuran, dan menegaskan komitmen mereka terhadap solusi dua negara.
Mereka menentang gagasan Trump itu karena penggusuran penduduk Gaza jelas-jelas merupakan pelanggaran hukum humaniter dan internasional, dan pelanggaran mencolok terhadap resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Palestina.
Trump hanya didukung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebut ide Trump itu bagus, belum pernah terjadi sebelumnya, dan bahkan menawarkan solusi yang masuk akal.
Pada hari Kamis, utusan AS untuk Timur Tengah Steven Witkoff mencoba memperbaiki situasi, dengan mengatakan bahwa rencana Presiden Donald Trump untuk Gaza tidak bertujuan menggusur warga Palestina, dan bahwa pembicaraan tentang masa depan Gaza beralih ke bagaimana menciptakan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.
Pada tanggal 4 Februari, Trump mengusulkan agar AS mengambil alih Jalur Gaza dan merelokasi warga Palestina ke negara-negara lain, termasuk Mesir dan Yordania. Usulan ini tak pelak memicu penolakan internasional.
Selain itu, Penasihat Keamanan Nasional AS Michael Waltz dalam partisipasinya pada Konferensi Aksi Politik Konservatif (CPAC), Jumat (21/2), mengatakan bahwa Hamas tidak akan diizinkan untuk memerintah Jalur Gaza lagi.
“Hamas tidak boleh dibiarkan eksis dengan cara apa pun di masa mendatang,” kata Waltz seperti dikutip situs web i24 Israel, sembari menyebutkan bahwa Hamas menolak solusi dua negara dan mencegah tercapainya tujuan ini. (mm/raialyoum)