Beirut, LiputanIslam.com – Pasukan Zionis Israel telah meninggalkan ladang-ladang kehancuran saat mereka melakukan penarikan pasukan yang belum tuntas dari Lebanon selatan minggu ini.
Gambar dan video mengerikan beredar di media sosial sejak desa-desa perbatasan dapat diakses setelah pasukan Israel ditarik keluar pada dini hari tanggal 18 Februari.
Pasukan Israel masih meledakkan rumah-rumah beberapa jam sebelum penarikan pasukan dimulai pada akhir tanggal 17 Februari.
Ledakan massal telah menyebabkan puluhan ribu rumah hancur menjadi puing-puing di seluruh Lebanon selatan.
Laporan media terbaru memenyebutkan pada hari Kamis (20/2) bahwa sejumlah besar persenjataan yang belum meledak, perangkat mata-mata, dan infrastruktur yang dipasangi jebakan telah ditinggalkan oleh tentara Israel.
Sebanyak 20-an mayat ditemukan di Kfar Kila, Mays al-Jabal, Odaisseh, dan Markaba selama beberapa jam terakhir.
Warga di Odaisseh, Kfar Kila, dan beberapa desa lainnya, mengatakan sangat sedikit yang tersisa. Apa yang belum hancur total telah rusak parah.
“Seluruh desa telah hancur menjadi puing-puing. Ini adalah zona bencana,” kata Alaa al-Zein, seorang warga Lebanon selatan.
Tentara Israel telah mempertahankan pendudukannya di sedikitnya lima lokasi penting di Lebanon selatan. Pasukan Israel terus menduduki Labbouneh, Gunung Blat, Bukit Owayda, Aaziyyeh, dan Bukit Hammamis.
Tel Aviv telah melanggar kesepakatan lebih dari 1.000 kali dengan serangan gencar terhadap Lebanon sejak kesepakatan itu dicapai pada bulan November.
Lebanon menolak kehadiran pasukan Israel yang terus berlanjut dan menjadi pelanggaran gencatan senjata dan batas waktu penarikan pasukan.
Desa-desa perbatasan Lebanon menanggung beban serangan udara Israel selama 11 bulan pertama perang.
Warga Lebanon yang mengungsi sejak awal perang pada Oktober 2023 baru dapat kembali ke rumah mereka di jalur perbatasan karena serangan darat tentara Israel dan bentrokan sengit dengan pejuang perlawanan Hizbullah.
Serangan meluas jauh ke selatan pada September 2024, ketika kontak senjata terbatas berubah menjadi perang total setelah serangan teror pager Israel dan pembunuhan kepala Hizbullah Hassan Nasrallah.
Setelah menderita kerugian besar di tangan Hizbullah, gencatan senjata mulai berlaku. Namun, hal itu tidak menghentikan pasukan Israel untuk terus melakukan serangan harian dan meledakkan rumah serta infrastruktur. (mm/presstv)