TelAviv, LiputanIslam.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku “berkomitmen” terhadap gagasan Amerika Serikat (AS) untuk mengambil alih Jalur Gaza dan menggusur penduduk Palestina di sana.
Dalam sebuah pernyataan pada hari Senin (17/2), Netanyahu mengatakan, “Saya berkomitmen terhadap rencana Presiden AS Trump untuk menciptakan Gaza yang berbeda”.
Dia bersumbar bahwa “baik Hamas maupun Otoritas Palestina” tidak akan memerintah daerah itu pada akhir perang selama 15 bulan, yang telah menggugurkan lebih dari 48.000 warga Palestina dan menyebabkan krisis kemanusiaan yang mengerikan.
Netanyahu mengatakan demikian sehari setelah dia memuji “visi berani Trump untuk masa depan Gaza”.
Berbagai kelompok peduli HAM di dunia mengecam upaya pemerintahan Trump untuk mengambil alih Gaza dan mengusir warga Palestina. Mereka menyebut upaya itu sebagai pelanggaran hukum internasional yang sama dengan pembersihan etnis.
Usulan tersebut juga telah dikecam secara luas oleh negara-negara Arab, tetapi menjadi agenda selama kunjungan Menlu AS Marco Rubio ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) minggu ini.
Rubio disambut oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman pada hari Senin di Riyadh, persinggahan terakhir dalam safarinya ke Timur Tengah.
“Menteri Luar Negeri (AS) dan Putra Mahkota (Saudi) menegaskan kembali komitmen mereka untuk melaksanakan gencatan senjata di Gaza dan memastikan bahwa Hamas membebaskan semua sandera, termasuk warga negara Amerika,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS dalam pembacaan hasil pembicaraan tersebut.
“Menteri menekankan pentingnya pengaturan untuk Gaza yang berkontribusi pada keamanan regional,” lanjutnya.
Arab Saudi memelopori upaya Arab untuk mengembangkan usulan balasan terhadap rencana Trump untuk Gaza, yang dapat melibatkan dana rekonstruksi yang dipimpin negara-negara Arab Teluk dan kesepakatan untuk menyingkirkan Hamas.
Kementerian Luar Negeri Saudi mengatakan pihaknya menolak segala upaya untuk menggusur warga Palestina dari tanah mereka.
Rubio dalam sebuah wawancara baru-baru ini mengatakan AS tetap terbuka terhadap usulan alternatif dari pemerintah Arab, tetapi untuk saat ini “satu-satunya rencana adalah rencana Trump”. (mm/aljazeera)