Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul-Malik al-Houthi, memperingatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak melakukan agresi baru di Gaza, dan menekankan kesiapan militer Yaman untuk melakukan eskalasi segera terhadap Israel jika rezim Zionis ini kembali melakukan eskalasi di Jalur Gaza.
Peringatan itu dinyatakan Sayid al-Houthi di tengah ancaman Israel untuk memulai kembali perang genosida di Gaza, setelah Hamas memprotes penundaan Tel Aviv dalam menerapkan ketentuan perjanjian gencatan senjata, dengan mengaitkan “kepatuhan terhadap ketentuan perjanjian dengan apa yang dipatuhi rezim pendudukan.”
“Israel menunda-nunda pelaksanaan tahap kedua perjanjian ini, dan jika bergerak ke arah eskalasi, maka akan disambut dengan keteguhan dan tekad dari rakyat Palestina,” ungkap Sayid Al-Houthi dalam pidato yang disiarkan televisi, Selasa (11/2)
“Tidaklah bermaslahat bagi penjahat Netanyahu jika dia mengarah pada agresi baru dan berasumsi bahwa segala sesuatunya akan melegakan dirinya,” lanjutnya.
Sayid Al-Houthi memperingatkan, “Kami siap dan akan segera meningkatkan serangan terhadap Israel jika mereka kembali meningkatkan serangan terhadap Gaza.”
Dia juga menegaskan, “Jika entitas musuh ini kembali melakukan eskalasi, mereka akan kembali ke keadaan, kondisi, dan suasana perang serta bahayanya dalam situasi keamanan dan militer serta dalam situasi ekonomi itu sendiri meski mendapat dukungan Amerika.”
Menanggapi rencana Presiden AS Donald Trump untuk “mengambil alih” Gaza setelah memindahkan penduduknya ke negara lain, termasuk Mesir dan Yordania, Sayid al-Houthi mengatakan, “Amerika berbicara tentang pengusiran rakyat Palestina dari Gaza dan kemudian ingin mendudukinya, dan kemudian Trump bersaran bahwa ia ingin membeli Jalur Gaza seakan wilayah ini adalah barang yang diperjual belikan. Pandangan Amerika ini mencerminkan penghinaan terhadap segala hal, baik hukum, peraturan, prinsip, nilai, atau moral.”
Dia menambahkan, “Ada konsensus di antara Palestina, rezim-rezim Arab, dan bahkan dunia untuk mengutuk dan menolak sikap Amerika terkait pengusiran rakyat Palestina dari Gaza.”
Dia juga mengatakan, ” Amerika serakah terhadap negara lain, berusaha memperoleh yang pertama dan terutama, dan selalu memiliki bagian terbesar dari semua kekayaan dan kepentingan negara.”
Menurutnya, AS menganggap umat Islam dan Arab sebagai santapan empuk, dan menganggap para pemilik kekayaan besar di antaranya sebagai “sapi perah”.
Sayid Al-Houthi memperingatkan berbagai negara agar tidak menjilat AS karena tindakan demikian tidak akan membuat penjilat itu dipandang positif dan dihormati oleh AS, melainkan justru akan semakin dipandang dengan sebelah mata.
“Proyek Amerika-Israel adalah proyek agresif dan destruktif yang secara krusial menyasar umat kita dengan tujuan menduduki wilayah geografis luas negara-negaranya,” ujarnya.
Dia juga memperingatkan, “Proyek Amerika-Israel berupaya menyita tempat-tempat suci, bukan hanya Masjid Al-Aqsa, melainkan Mekkah dan Madinah merupakan bagian dari proyek Zionis.” (mm/raialyoum)