Teheran, LiputanIslam.com – Akun Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Besar Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, memosting ulang pernyataannya mengenai Palestina bahwa semua wilayah Palestina adalah milik bangsa Palestina sendiri.
“Seluruh Palestina, dari sungai hingga laut, adalah milik rakyat Palestina,” bunyi pernyataan tersebut.
Skun media sosial khamenei.ir pada hari Kamis (6/2) memuat kalimat itu dalam beberapa bahasa dunia..
Frasa “dari sungai ke laut” mengacu pada wilayah geografis antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania sehingga meliputi seluruh wilayah Palestina.
Pernyataan pemimpin besar Iran itu diposting ulang di tengah maraknya pemberitaan dan kontroversi seputar pernyataan Presiden AS Donald Trump untuk “pengambil alihan Gaza” dan pemindahan atau lebih tepatnya pengusiran penduduk Gaza ke Mesir dan Yordania.
Belakangan ini Trump membuat pernyataan baru berupa “penyerahan” Gaza kepada AS setelah perang genosida Israel terhadap Gaza.
Pengumuman Trump dalam unggahan media sosial pada hari Kamis menambah kebingungan baru pada usulannya sebelumnya untuk relokasi warga Palestina keluar dari Gaza dan meminta AS mengambil alih wilayah yang hancur akibat perang itu.
“Jalur Gaza akan diserahkan kepada Amerika Serikat oleh Israel setelah pertempuran berakhir,” kata Trump dalam unggahan pagi harinya.
“Tentara AS tidak akan dibutuhkan! Stabilitas di wilayah itu akan terwujud!!!” bunyi unggahan barunya, di mana juga mengklaim bahwa warga Palestina akan memiliki “kesempatan untuk bahagia, aman, dan bebas” di bawah skema relokasi yang mencanangkan pemindahan mereka ke Mesir dan Yordania.
Utusan khusus AS untuk Timur Tengah Steve Witkoff dilaporkan mengatakan kepada senator Republik dalam sebuah jamuan makan siang tertutup bahwa Trump tidak “ingin mengerahkan pasukan AS ke lapangan, dan tidak ingin menghabiskan dolar AS sama sekali” untuk Gaza.
Trump awalnya menyarankan bahwa warga Palestina dapat dipindahkan secara permanen, sebelum menambahkan bahwa mereka akan dapat tinggal di sana, bersama yang lain, setelah Gaza “dibangun kembali”.
Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menanggapi pertanyaan wartawan pada hari Rabu, dengan menyatakan bahwa dia tidak dapat memastikan apakah warga Palestina akan diizinkan untuk tinggal di wilayah tersebut.
Trump telah menegaskan bahwa warga Palestina di Gaza perlu dimukimkan kembali secara permanen di negara-negara sekitar. Menghadapi kecaman internasional, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berusaha untuk memenuhi syarat tersebut, dengan mengatakan bahwa idenya adalah agar warga Gaza meninggalkan wilayah yang dikepung untuk “sementara waktu”.
Menteri urusan militer Israel, Israel Katz, pada hari Kamis memerintahkan tentara rezim Zionis tersebut untuk menyiapkan rencana yang memaksa “keberangkatan sukarela” warga Palestina dari Jalur Gaza.
Juru bicara Hamas Hazem Qassem pada hari Kamis memperingatkan bahwa rencana Trump itu merupakan “deklarasi niat untuk menduduki” wilayah Palestina.
Kelompok perlawanan Palestina menyerukan “pertemuan puncak Arab yang mendesak untuk menghadapi pemindahan” warga Palestina dari Gaza, ungkap Qassem dalam sebuah pernyataan.
Juru bicara Hamas mengecam pernyataan Trump sebagai “sama sekali tidak dapat diterima”.
“Gaza adalah milik rakyatnya dan mereka tidak akan pergi. Kami menyerukan diadakannya pertemuan puncak Arab darurat untuk menghadapi proyek pemindahan,” tegasnya.
Dia menambahkan, “Pernyataan Trump tentang Washington yang mengambil alih kendali Gaza sama saja dengan deklarasi terbuka niat untuk menduduki wilayah tersebut.”
Dia juga menandaskan, “Kami tidak membutuhkan negara mana pun untuk menjalankan Jalur Gaza dan kami tidak menerima penggantian satu pendudukan dengan pendudukan lain.”
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa pemindahan paksa tak ubahnya dengan pembersihan etnis.
Sekjen PBB Antonio Guterres dalam pidatonya di hadapan komite PBB yang menangani hak-hak warga Palestina mengatakan,“Pada hakikatnya, pelaksanaan hak-hak yang tidak dapat dicabut dari rakyat Palestina adalah tentang hak warga Palestina untuk hidup sebagai manusia di tanah mereka sendiri.”
Tiongkok pada hari Kamis menegaskan pihaknya menentang desakan Trump untuk pemindahan warga Palestina keluar dari Gaza. Juru bicara kementerian luar negeri negara itu Guo Jiakun mengatakan bahwa Beijing dengan tegas mendukung hak-hak nasional yang sah dari rakyat Palestina.
“Gaza adalah Gaza milik warga Palestina, bagian integral dari wilayah Palestina, bukan alat tawar-menawar politik, apalagi menjadi sasaran hukum rimba,” kata Guo.
Beberapa negara lain, termasuk Arab Saudi, UEA, Yordania serta Prancis dan Jerman telah menyatakan penentang mereka terhadap gagasan Trump tersebut. (mm/alalam/presstv)