Teheran, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai “kebijakan tekanan maksimum” terhadap Teheran, dan mengatakan bahwa AS keliru dalam memperhitungkan Iran.
“AS berpikir bahwa segala sesuatu yang kita lakukan bergantung pada minyak dan mereka ingin menghentikan ekspor minyak kita, sementara ada banyak cara untuk menetralisir tujuan mereka, yang dapat kita gunakan untuk menyelesaikan masalah kita, berinteraksi dengan tetangga kita, dan menyediakan lingkungan yang tepat untuk kehidupan yang layak bagi rakyat negara kita,” ujar Pezeshkian, Rabu (5/2).
“Anda harus terus menempuh jalan ini hingga kita mencapai titik yang menjamin martabat dan kebanggaan rakyat dan negara, serta apa yang pantas bagi kita,” lanjutnya.
Dia menjelaskan, “Amerika mengatakan akan mengenakan sanksi terhadap Iran, sementara jika kita mengelola aset kita dengan baik dan memiliki hubungan baik dengan negara-negara tetangga, bagaimana mungkin begitu mudah mengenakan sanksi terhadap negara yang memiliki kekuatan seperti ini dan hubungan yang telah lama terjalin dengan negara-negara tetangganya?”
Pada Selasa malam, Trump menandatangani memorandum presiden tentang Iran, yang bertujuan menghidupkan kembali apa yang disebut kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran, dan memungkinkan penerapan tindakan ekonomi, politik, dan militer terhadap Iran.
“Semoga saja kita tidak perlu menggunakan memorandum itu, dan kita lihat apakah kita bisa membuat kesepakatan dengan Iran,” kata Trump.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengomentari pernyataan dan ancaman Trump terhadap Iran itu dengan mengatakan kepada wartawan,”Pengalaman kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran telah gagal, dan pengulangan upaya demikian juga akan gagal.”
Dia menambahkan, “Jika isu utamanya adalah Iran tidak mencari senjata nuklir maka ini bisa dicapai. Iran adalah anggota berkomitmen dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir, dan pendiriannya dalam hal ini cukup jelas, dan ada juga fatwa yang dikeluarkan oleh Pemimpin Revolusi Islam yang menjelaskan kewajiban setiap orang dalam hal ini.” (mm/alalam)