TelAviv, LiputanIslam.com – Dua tentara Israel tewas di bagian utara wilayah pendudukan Tepi Barat setelah seorang warga Palestina melepaskan tembakan di sebuah pos pemeriksaan keamanan sebelum dia sendiri ditembak mati.
Dalam sebuah pernyataan, tentara Israel mengatakan pada hari Selasa (4/2) bahwa serangan itu terjadi di pos pemeriksaan Tayasir dekat Jenin di wilayah utara Tepi Barat.
Media Israel Ynet melaporkan bahwa penyerang, yang bersenjatakan senapan otomatis M-16, melepaskan tembakan dari jarak dekat ke seorang tentara yang keluar dari bunker hingga memicu kontak senjata yang berlangsung selama beberapa menit.
Menurut layanan ambulans Israel, delapan tentara juga terluka dalam serangan itu.
Insiden itu terjadi ketika ketegangan meningkat di Tepi Barat di mana operasi besar Israel sedang berlangsung di provinsi Jenin, termasuk kamp pengungsi di kota itu, serta Tulkarem dan daerah lainnya.
Militer Israel melancarkan serangan besar bersandi “Tembok Besi” di wilayah itu bulan lalu, tak lama setelah gencatan senjata disetujui di Gaza.
Israel juga memperketat tindakannya di pos pemeriksaan yang ada dan mendirikan pos pemeriksaan baru di seluruh wilayah Tepi Barat. Setidaknya 900 pos pemeriksaan, gerbang, dan gundukan tanah seperti itu telah mengisolasi warha Palestina dan membuat pergerakan antar desa, kota kecil, dan kota kecil menjadi mustahil.
Serangan mematikan Israel telah berlangsung selama 15 hari di Jenin, sembilan hari di Tulkarem, dan tiga hari di Tubas, tempat dua lokasi ditembaki pada Selasa pagi. Setidaknya 70 warga Palestina gugur dan puluhan lainnya terluka serta ditahan oleh pasukan Israel tahun ini. Angka tersebut termasuk 44 orang yang gugur sejak tentara Israel melancarkan operasi terbarunya.
Kementerian Kesehatan mengatakan 10 anak-anak, satu wanita, dan dua warga Palestina lanjut usia termasuk di antara mereka yang gugur.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan kamp pengungsi Jenin sedang menuju “arah bencana” setelah operasi militer Israel belakangan ini menghancurkan beberapa bangunan. Juru bicara UNRWA Juliette Touma kepada wartawan di Jenewa mengatakan bahwa sebagian besar kamp telah “hancur total dalam serangkaian ledakan oleh pasukan Israel”.
Serangan Israel di kamp pengungsi Tulkarem telah membuat tiga perempat warga Palestina mengungsi dari daerah tersebut, kata Faisal Salama, kepala Komite Rakyat untuk Layanan di kamp tersebut.
Doctors Without Borders, yang dikenal dengan inisial bahasa Prancisnya MSF, pada hari Senin mengutuk serangan Israel tersebut.
“Sejak gencatan senjata dilaksanakan di Gaza, telah terjadi peningkatan kekerasan ekstrem yang terjadi di seluruh Tepi Barat, khususnya di Jenin, Tulkarem, dan Tubas. Ini tidak dapat diterima,” kata organisasi tersebut dalam sebuah posting di X.
Mereka memperingatkan bahwa blokade Israel di Jenin yang disebabkan oleh operasi yang sedang berlangsung menyebabkan kekurangan pasokan “penting”. (mm/aljazeera)