Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato mingguannya yang disiarkan di saluran al-Masirah pada hari Kamis (16/1) menyatakan gencatan senjata menunjukkan kegagalan Rezim Zionis Israel di Jalur Gaza.
Pernyataan itu dia nyatakan menyusul pengumuman tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas dan para pejuang Palestina lainnya di Gaza, yang akan mulai diterapkan pada hari Ahad (19/1).
“Israel gagal di Gaza meskipun ada blokade terhadap kubu perlawanan Palestina dan ada sarana yang diberikan oleh AS. Israel bersama dengan AS terpaksa mencapai kesepakatan di Gaza setelah berbulan-bulan melakukan kejahatan yang mengerikan,” tutur Sayid Abdul-Malik Al-Houthi.
Pemimpin Ansarullah mengancam bahwa pasukan Yaman, yang didukung Iran, akan terus melancarkan serangan terhadap Israel jika rezim pendudukan Israel tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata.
Dia mengatakan, “Kami akan terus mengikuti tahapan-tahapan pelaksanaan perjanjian ini, dan jika Israel berbalik, atau terjadi pembantaian, atau blokade, kami akan segera siap memberikan dukungan militer kepada bangsa Palestina.”
Sementara itu, media Israel mengomentari perjanjian gencatan senjata dan pertukaran tahanan di Jalur Gaza, dengan menyebutkan bahwa tujuan utama Hamas dalam kesepakatan tersebut adalah untuk “bertahan dan mempertahankan kendali dan tidak memberikan Israel pijakan di Jalur Gaza,” dan bahwa Hamas “berhasil dalam hal ini, ” sedangkan Israel “gagal”.
Analis Israel urusan Arab Zvi Yehezkeli di situs i24NEWS menyatakan bahwa kesulitan kesepakatan “bukan pada pembebasan tawanan, melainkan pada bagaimana bergerak maju pada hari berikutnya,” karena “Hamas bergerak maju dalam mengelola Jalur Gaza ,” yang berarti bahwa “Israel tidak mencapai tujuan perang, juga tidak mengubah realitas di kawasan tersebut.”
“Hamas menginginkan satu hal, dan konsisten dengan tujuannya, ingin menguasai Jalur Gaza,” kata Yehezkeli.
Senada dengan ini, Micha Kobi, mantan pejabat di Badan Keamanan Umum Israel (Shin Bet), mengatakan, “Kesepakatan yang disepakati bukanlah kesepakatan ideal bagi Israel, melainkan salah satu kesepakatan terburuk yang pernah dibuat sepanjang sejarahnya.” (mm/raialyoum/alalam)