Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Badruddin al-Houthi, memuji serangan militer Yaman terhadap Israel, dan memastikan Israel tidak mampu mencegat dan menembak jatuh rudal hipersonik Yaman.
Dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Kamis malam (9/1), dia menekankan bahwa kegagalan tersebut menunjukkan kesenjangan yang besar dan signifikan dalam kemampuan pertahanan rezim Tel Aviv.
Dia mengatakan pasukan Yaman telah berulang kali berhasil membidik posisi militer Israel jauh di dalam wilayah pendudukan, menggunakan rudal hipersonik dan pesawat nirawak (UAV/drone).
Operasi Yaman, yang dilakukan sebagai balasan atas kampanye genosida Israel terhadap warga Palestina di Gaza, menimbulkan kerugian ekonomi yang besar bagi Rezim Zionis, tambahnya.
“Operasi tersebut berdampak sangat besar, menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kepanikan pada musuh Zionis, yang gagal mencegat rudal Yaman. Industri penerbangan Israel sangat terdampak, karena penerbangan masuk dan keluar Bandara Ben Gurion dihentikan selama operasi kami,” ungkap Sayid Abdul Malik al-Houthi.
Dia mengecam pemerintahan Presiden AS Joe Biden, yang akan segera lengser, karena memberikan paket bantuan senilai $8 miliar kepada Israel, yang mencakup amunisi untuk jet tempur dan helikopter serang di samping peluru artileri
“Entitas Zionis akan menggunakan amunisi itu untuk membunuh wanita dan anak-anak,” ujarnya.
Dia juga mengecam “semua pemerintah yang acuh tak acuh, pengecut, kikir dan hanya menonton kelaparan warga Palestina di Gaza.”
“Minggu ini, tentara Israel mulai menjarah bantuan yang telah sampai di Gaza. Apa yang dilakukan Israel terhadap Rumah Sakit Kamal Adwan (di Gaza utara) adalah agresi terang-terangan, dan salah satu kejahatan paling mengerikan yang pernah dilakukan di Jalur Gaza,” tegasnya.
Pemimpin Ansarullah itu juga menyatakan bahwa masjid merupakan salah satu target utama serangan Israel.
“Musuh, Israel, terus melakukan kejahatan, serangan udara, pembunuhan, dan penghancuran di Tepi Barat dan al-Quds. Rezim Zionis terus berupaya membawa lebih banyak orang Yahudi ekstremis ke wilayah pendudukan untuk mengejar rencana ekspansif,” sambungnya.
Mengenai agresivitas Israel terhadap Lebanon, dia mengatakan, “Apa pun yang dilakukan Israel di Lebanon selatan dan agresinya yang berulang-ulang semuanya berakhir dengan kegagalan. Israel gagal mencapai tujuan yang diumumkannya, yaitu menumpas Hizbullah, karena gerakan perlawanan ini tetap eksis prima di kancah Lebanon.”
Mengenai serangan Israel terhadap infrastruktur dan pabrik penting di Suriah, Sayid al-Houthi mengatakan bahwa serangan itu cukup terkait dengan kepentingan rezim Tel Aviv, yang berkisar pada pendudukan dan penjarahan.
Dia juga mengecam AS dan Israel terkait dengan upaya mereka merekrut agen mata-mata dan mendirikan sel-sel sabotase yang bertujuan memicu pertikaian dan memecah belah rakyat Suriah. Karena itu, dia menyerukan kepada rakyat Suriah agar bersatu dan melindungi tanah air mereka dari konspirasi AS dan Israel. (mm/presstv)