Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik al-Houthi, dalam pidato mingguannya tak lupa mengenang jenderal legendaris Iran Qasem Soleimani pada hari peringatan gugurnya tokoh dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) tersebut bersama tokoh pejuang Irak Abu Mahdi al-Muhandis.
“Haji Qasem – semoga Allah merahmatinya- berkiprah hingga detik kesyahidannya, dan karena kiprah inilah dia diserang oleh AS. Sebab, AS memandang beliau sebagai penghalang bagi kesuksesan banyak konspirasinya terhadap cita-cita Palestina dan upayanya untuk menghabisi cita-cita ini secara total, serta penghalang bagi konspirasinya terhadap bangsa-bangsa di kawasan (Timteng) ini, ” ungkapnya dalam pidato yang ditayangkan saluran Al-Masirah milik Ansarullah pada hari Kamis (2/1).
Sayid Al-Houthi menambahkan, “Sedemikian rupa diperhitungkan peran istimewa dan besar dua syahid mulia Haji Qasem Soleimani dan Abu Mahdi al-Muhandis – semoga Allah merahmati keduanya- dalam perlawanan terhadap konspirasi Israel dan Amerika, termasuk terhadap Irak dan bangsa Irak.
Dia kemudian mengimbau pemerintah dan rakyat Irak dengan mengatakan, “Masih ada tanggungjawab bagi pemerintah dan rakyat Irak untuk adanya sikap Irak yang kuat terhadap kejahatan serangan AS terhadap keduanya di wilayah Irak dan pelanggaran AS atas wilayah Irak dengan kejahatan ini.”
Sayid Abdul Malik al-Houthi juga mengatakan, “Sejak berdirinya beberapa gerakan pejuang Islam di Jalur Gaza dan Palestina, telah terjalin kerja sama yang besar untuk peran mulia Republik Islam Iran dalam mendukung bangsa Palestina.”
Dia menyebutkan bahwa Iran sangat memusuhi Israel karena Iran merupakan bagian dari umat Islam dimusuhi dan diserang oleh entitas Zionis tersebut.
Seperti diketahui, AS membunuh Jenderal Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, dan Abu Mahdi al-Muhandis, wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hashd Al-Shaabi, dalam serangan pesawat nirawak di dekat Bandara Internasional Baghdad pada 3 Januari 2020.
Pada 8 Januari 2020, IRGC menggempur pangkalan Ain al-Asad yang dikelola AS di provinsi Anbar, Irak barat, dengan gelombang serangan rudal sebagai balasan atas pembunuhan Jenderal Soleimani.
Menurut Kemhan AS Pentagon, lebih dari 100 pasukan AS menderita “cedera otak traumatis” akibat serangan balasan di pangkalan tersebut. Namun, IRGC mengatakan Washington menggunakan istilah tersebut untuk menutupi jumlah tentara AS yang tewas akibat serangan balasan tersebut. Iran menyebut serangan rudal terhadap Ain al-Assad sebagai “tamparan pertama.”
Pemimpin Ansarullah dalam pidato tersebut juga menyinggung serangan terbaru pasukan Yaman terhadap AS.
“Kami pada pekan melakukan operasi besar, penting dan kuat, dan kami menyerang, untuk kedua kalinya, kapal induk AS USS Harry S. Truman dengan 11 rudal jelajah dan sebuah drone.”
Dia menjelaskan bahwa operasi tersebut “bersamaan dengan rencana untuk melancarkan operasi agresif berskala besar terhadap negara kami, termasuk sejumlah provinsi.”
“Rencana Amerika untuk menargetkan negara kita telah digagalkan. Salah satu hasil dari operasi tersebut adalah kaburnya kapal induk itu beserta kapal-kapal angkatan laut ke ujung utara Laut Merah,” sambungnya.
Sayid Al-Houthi mengatakan, “Di antara operasi minggu ini adalah penembak jatuhan dua pesawat nirawak MQ-9 di Al Bayda dan Ma’rib. Pesawat jenis ini mahal, dan Amerika mengandalkannya untuk pengintaian dan agresi.”
Mengenai Israel, dia mengatakan, “Rezim pendudukan mencirikan Yaman sebagai musuh yang sangat kompleks. Ini merupakan hal yang sangat positif bagi kami, dan ini berarti bahwa Yaman, secara resmi dan populer, adalah negara yang kohesif, kuat, stabil dan teguh.”
Dia juga mengatakan, “Israel terkejut atas intensitas operasi yang mendukung rakyat Palestina dari Yaman, dan ini merupakan operasi yang sangat berpengaruh dan efektif.” (mm/almasirah/alalam/raialyoum)