Damaskus, LiputanIslam.com – Kantor berita Reuters mengutip keterangan dua sumber Suriah bahwa penguasa baru negara ini telah merekrut para militan asing di angkatan bersenjata, termasuk dari Uighur, Yordania dan Turki, manakala Damaskus mencoba mengintegrasikan kelompok-kelompok bersenjata ke dalam angkatan bersenjata.
Kedua sumber itu menyebutkan, dari total 50 “peran militer” yang diumumkan Kementerian Pertahanan pada hari Minggu (29/12), setidaknya enam “peran” diberikan kepada militan asing.
Menurut Reuters, langkah ini “bertujuan memberikan peran resmi, termasuk peran senior, kepada sejumlah pejuang,” namun “hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah asing dan warga Suriah, yang takut akan niat pemerintahan baru,” meskipun demikian “mereka berjanji untuk tidak mengekspor revolusi Islam, dan menunjukkan toleransi terhadap kelompok minoritas di Suriah.”
Penguasa baru Suriah, yang sebagian besar berasal dari Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), menyatakan bahwa militan asing dan keluarga mereka dapat memperoleh kewarganegaraan Suriah dan diizinkan untuk tetap tinggal di negara ini.
Kementerian Pertahanan pada Minggu lalu mengumumkan pengangkatan 49 perwira di angkatan bersenjata, termasuk para pemimpin faksi utama bersenjata Suriah. Sumber militer Suriah mengatakan kepada Reuters, “Di antara mereka ada beberapa pejuang asing, tiga di antaranya berpangkat brigadir jenderal, dan setidaknya tiga lainnya berpangkat kolonel.”
Seperti diketahui, ribuan militan asing bergabung dengan militan oposisi Suriah pada awal perang yang pecah 13 tahun lalu.
Militan asing membentuk kelompok-kelompok bersenjata mereka sendiri, sementara yang lain bergabung dengan formasi yang sudah ada, termasuk ISIS, dan kelompok pejuang asing lainnya bergabung dengan HTS, yang memisahkan diri dari Al-Qaeda dan ISIS, dan bahkan melakukan pertempuran berdarah melawan mereka, sebelum kemudian terus memimpin serangan kilat yang menggulingkan pemerintahan Bashar Al-Assad pada tanggal 8 Desember. (mm/almayadeen)