Kairo, LiputanIslam.com – Para pemimpin berbagai kelompok bersenjata di Suriah, terutama pemimpin Hay’at Tahrir al-Sham, Abu Muhammad Al-Julani, yang belakangan menggunakan nama Ahmad Al-Sharaa, sejak menguasai negara ini telah berulang kali melontarkan pernyataan-pernyataan sinis terhadap Iran dan bahkan umat Muslim Syiah secara umum dalam berbagai kesempatan, termasuk dalam sebuah pertemuan dengan politisi Lebanon Walid Jumblatt dan para tokoh Druze.
Dalam pertemuan itu Al-Julani melontarkan pernyataan yang menyudutkan Iran. Dia mengaku heran atas apa yang disebutnya sebagai retorika kebencian terhadap penduduk Syam. Syam adalah sebutan di masa silam untuk kawasan luas yang mencakup Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon, namun kini lebih dikaitkan dengan Suriah.
“Penduduk Syam tak terbiasa melihat retorika demikian. Penduduk Syam cinta damai, dan terlampau lapang (toleran) untuk memasuki fanatisme sektarian, kultural dan historis. Mereka tak berdosa dalam hal ini. Ada berbagai peristiwa yang terjadi sejak 1400 tahun silam. Urusan apa kami dengan semua itu?” ujar Al-Julani.
Dia menambahkan, “Ada orang-orang tertentu datang untuk membalas dendam terhadap penduduk Syam berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi pada 1400 tahun silam. Akal sehat apa ini? Logika apa ini? Apa sangkut pautnya kami dengan masalah ini? Kami tak bersangkut paut dengannya, dan tak membunuh orang. Kami tak tahu menahu. Alhasil, Maha Suci Allah dari perolokan takdir dan aneka peristiwa yang mengenaskan sekaligus dagelan di mana Anda melihat adanya orang-orang yang mengeksploitasi masalah fikih, atau syariat, dan mengusik perasaan orang dengan dalih-dalih tertentu demi menduduki berbagai wilayah dan negara. Ada isu Palestina dan ada pula isu sejarah, yang hasilnya selalu saja jatuhnya ibu kota di negara-negara Arab ke tangan negara lain seperti Iran.”
Penulis dan jurnalis ternama Mesir Ibrahim Eissa dalam konten video yang diunggah di Youtube pada hari Rabu 25/12) menanggapi sengit dan tajam klaim Al-Julani tersebut.
“Entah muncul dari mana Al-Gulani ini. Al-Julani yang kini berkuasa itu mengatakan kepada Anda; ‘Kita tak mengerti bagaimana saudara-saudara Syiah itu ingin menghukum kami, penduduk Syam, berdasarkan perselisihan yang terjadi pada 1400 tahun silam,’” ujar Eissa.
Dia lantas menegaskan, “Hei si cantik, si manis, apa yang Anda maksud dengan persilisihan 1400 tahun silam itu? Andalah yang dulu menyerbu Irak justru karena perselihan yang terjadi 1400 tahun silam. Anda di sana melakukan penghancuran dan penumpahan darah, bergabung dengan ISIS dan Al-Qaedah, membom masjid-masjid Syiah, lantaran perselisihan 1400 tahun silam.”
Ibrahim Eissa juga mengatakan, “Orang-orang Anda mendatangi kuburan Muawiyah dan mengelu-elukannya adalah lantaran perselisihan 1400 tahun silam. Tampilan Anda beserta kelompok-kelompok bersenjata Anda dengan semua model cambang mereka, semuanya menerapkan wacana 1400 tahun silam. Kalian kembali ke gaya hidup 1400 silam. Kalian berlaku jumud, kaku dan berkutat pada era 1400 tahun silam. Masing-masing kalian menggunakan nama panggilan model 1400 tahun silam. Kalian tampil dengan cara berpikir 1400 tahun silam seolah sejarah dan akal pikiran tak mengalami perubahan. Kalian memperlakukan kami dengan paham, pandangan dan pikiran orang-orang yang hidup 1400 tahun silam, dan memahami agama dengan cara yang berlaku pada 1400 tahun silam tanpa mempertimbangkan apapun yang berlaku saat ini.”
Ebrahim Eissa menamahkan, “Anda ingin mengembalikan khilafah Islam dan perselisihan 1400 tahun silam. Anda menertawakan pengena songkok tarbus yang duduk di hadapan Anda, atau orang yang berkeperluan atau bertegur sapa dengan Anda, atau bahkan ingin menyumbang Anda. Tapi kemudian malah ada media Barat dan Arab memuji dan mengira bahwa Anda telah berubah, dan bahwa keadaan telah berubah, padahal tetap saja tak berubah. Ada pula rezim-rezim, negara-negara, dan para penguasa serta media yang mempromosikan kepada kita semua bahwa Al-Julani telah berubah.”
Patut diingat bahwa Al-Julani tampak sedemikian fokus menyorot Iran dalam berbagai stetemennya justru ketika dia juga terlihat tidak peduli kepada kehancuran yang terjadi kawasan sekitarnya akibat ulah pasukan Zionis dan AS. Hal ini tentu saja mengundang keprihatinan dan kecurigaan banyak orang terhadap Al-Julani dan kelompoknya. (mm/alalam/youtube)