Teheran, LiputanIslam.com – Juru bicara Kemlu Iran Ismail Baghaei menyatakan pihaknya pernah melakukan kontak dengan beberapa gerakan oposisi, namun saat ini tidak ada kontak langsung dengan penguasa baru di Suriah.
“Untuk waktu yang lama, kami telah melakukan kontak dengan gerakan oposisi di Suriah dan mengatakan bahwa kami masuk ke Suriah demi mencegah kemajuan ISIS dan penyebaran terorisme ke negara-negara di kawasan, dan memberikan bantuan untuk memajukan proses politik di Suriah. Sejak awal, kami telah melakukan kontak dengan beberapa kelompok oposisi ini, namun saat ini tidak ada kontak langsung dengan penguasa di Suriah,” ujarnya dalam konferensi pers mingguannya pada hari Senin (23/12).
Mengenai pertemuan menteri luar negeri Iran dengan sejawatnya dari Turki di Kairo, Baghaei menambahkan,“Suriah adalah salah satu topik yang dibahas dalam pembicaraan kami. Prinsip kami jelas, yaitu menjaga kedaulatan dan persatuan Suriah, dan demi rakyat Suriah. Mereka sendiri yang mengambil keputusan mengenai masa depan Suriah. Ada konsensus mengenai topik ini. Penting bagi para pemangku kepentingan di Suriah untuk mematuhi prinsip ini dan penting juga agar Suriah tidak menjadi sarang bagi pertumbuhan terorisme.”
Mengenai hubungan Iran dengan Suriah, dia mengatakan, “Kedua bangsa terikat hubungan historis. Kami memiliki hubungan jangka panjang dalam hal peradaban dan politik dengan Suriah. Kami selalu memperhatikan kepentingan Suriah dan membantu mereka memerangi terorisme. Di masa depan, kami akan membuat keputusan berdasarkan perilaku kekuatan yang berkuasa di Suriah.”
Menanggapi pertanyaan Tasnim terkait pernyataan Menlu Turki Hakan Fidan tentang kemungkinan Rezim Zionis Israel menyerang Iran, Baghaei mengatakan, “Masing-masing pihak yang terlibat di Suriah memiliki narasinya sendiri. Namun yang jelas ialah bahwa semua negara harus menolak pembenaran atas kejahatan, perang psikologis, dan penciptaan instabilitas oleh entitas Zionis. Kami telah berulang kali mengatakan bahwa Iran akan bertindak dengan kekuatan penuh dalam membela diri, dan kami menanggapi keburukan dari pihak manapun.”
Mengenai keberadaan berbagai kelompok oposisi di Suriah dan kemungkinan kembalinya kekacauan di negara ini, Baghaei mengatakan: “Masalah ini telah menjadi salah satu kekhawatiran terbesar kami sejak awal peristiwa di Suriah 13 tahun lalu, agar Suriah tidak terjerumus ke dalam kekacauan dan kelompok-kelompok ekstremis tidak mengeksploitasi situasi ini. Kami berharap apa yang disebut proses transisi di Suriah dapat memastikan bahwa negara ini tidak mengalami ketidakamanan lebih lanjut dan kekacauan tidak meluas ke negara-negara tetangga. Kami telah mengangkat kekhawatiran ini dalam pembicaraan-pembicaraan kami.” (mm/alalam)