
Doha, LiputanIslam.com – pakar militer dan strategi dari Yordania, Mayjen (Purn) Wassef Erekat, menyatakan bahwa keunggulan militer Rezim Zionis Israel di Timur Tengah mengalami keruntuhan dalam konfrontasinya dengan Angkatan Bersenjata Yaman dan para pejuang Hizbullah yang berbasis di lebanon.
Penilaian itu dikemukakan Erekat ketika diwawancara oleh saluran TV Al-Jazeera pada hari Sabtu (22/12) berkenaan dengan heboh kegagalan sistem pertahanan udara Israel mengintersepsi rudal hipersonik Yaman hingga menghantam Tel Aviv dan menjatuhkan sekira 30-an korban luka.
Berikut ini adalah terjemahan dan transkrip wawancara tersebut;
Apakah terjadi transformasi dalam konfrontasi antara Yaman dan Israel?
Hal ini diungkap oleh Israel sendiri ketika baru saja mengakui, sebagaimana Anda laporkan tadi, bahwa mereka telah menembakkan dua rudal Iron Dome tapi gagal mengintersepsi rudal Yaman.Mereka juga menembakkan rudal Arrow di level pertengahan tapi juga gagal mencegat rudal ini.
Ini secara implisit merupakan pengakuan Israel bahwa sistem pertahanan dan radar yang mereka anggap paling ideal di kawasan dan mereka memasarkannya dengan asumsi keberhasilannya mencapai 80-90 persen.
Pengakuan atas kegagalan ini berimplikasi apa dalam babak konfrontasi sekarang ini, menurut Anda?
Pertama, Israel mengandalkan kekuatan militer karena unggul dari segi angkatan udara, artileri, perlengkapan teknis, teknologi, dan sempat juga unggul di darat ketika menghadapi tentara (Arab). Tapi sekarang Israel kehilangan separuh nilaikeunggulan udaranya, karena ada drone dan rudal. Hal ini melemahkan superioritas udara Israel.
Superioritas daratnya pun, menurutku, juga sudah sangat lemah, sebagaimana kita lihat di Lebanon. Enam brigade militer Israel di sana selama dua bulan hanya dapat bergerak maju sejauh 7 km.
Kemampuan militer Israel juga kita saksikan di Gaza; bagaimana mereka mengandalkan pesawat udara, artileri dan tank; bagaimana mereka membunuh, menghancurkan, dan melakukan kejahatan perang. Tapi mereka takut berhadapan langsung dengan para pejuang perlawanan Palestina.
Sistem pertahanan udara dan radar mengalami hal yang sama, dan mereka mengakuinya, terutama karena sebagian besar rudal.
Dalam wawancara pada siaran kami tadi, Kolonel Mujib Samsan (Yaman) mengatakan bahwa
bukanlah hal baru serangan rudal Yaman tepat mengena sasaran dan menimbulkan kerusakan. Tapi, Israel merahasiakannya karena rudal itu tidak diarahkan pada target sipil dan permukiman, tapi sekarang beda perkaranya dan tak dapat disembunyikan lagi sehingga muncul pengakuan itu.
Dua hari lalu Menteri Pendidikan Israel sendiri (Yoav Kisc) bahkan mendustakan jubir militer Israel, yang mengatakan bahwa korban luka jatuh akibat serpihan rudal pencegat dari sistem pertahanan dan radar Israel.
Menteri Pendidikan lantas mengatakan bahwa rudal berhulu ledar besar telah menghancurkan gedung sekolah di Ramat Gan. Ini mengkonfirmasi bahwa Israel selalu saja berdusta mengenai kerugian yang dideritanya, baik berkenaan dengan korban maupun target yang terkena serangan secara presisi, agar tak terjadi kepanikan yang parah di dalam negeri, terutama ketika rudal mencapai kedalaman wilayah Palestina pendudukan di Yafa atau Tel Aviv di mana 5 juta orang Israel bergegas menuju bunker.
(mm/aljazeera)