Kairo, LiputanIslam.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah tiba di Kairo, ibu kota Mesir, untuk menghadiri pertemuan puncak blok D-8 negara-negara Muslim berkembang, yang akan berlangsung pada hari Kamis (19/12).
Dalam pernyataan di Teheran sebelum perjalanan tersebut, Presiden Pezeshkian menekankan pentingnya memperkuat hubungan antarnegara Islam untuk melawan rencana-rencana kotor pihak lain.
“Pertemuan puncak tingkat ini bertujuan membina hubungan yang lebih erat antarnegara Islam dalam bidang ekonomi, politik, budaya, dan sosial, dan memungkinkan terjadinya pertukaran pengalaman, sangatlah efektif,” katanya.
Menyinggung peran penting Mesir di dunia Islam, Pezeshkian menyebut negeri piramida ini sebagai “negara berlatar belakang sejarah yang panjang dan peradaban yang besar serta memainkan peran berpengaruh di dunia Islam.”
Presiden Iran menekankan pentingnya membangun hubungan yang lebih kuat di dalam dunia Islam.
“Semakin dekat, dalam, dan praktis hubungan kita dengan negara-negara Islam, semakin efektif kita dapat menggagalkan konspirasi musuh terhadap kita dan negara-negara Islam lain,” ujarnya.
Menurutnya, diskusi dalam pertemuan puncak D-8 akan mencakup isu-isu utama Gaza, Palestina, dan Lebanon.
Perundingan tersebut bertujuan mengeksplorasi cara-cara negara-negara Islam untuk dapat mengadopsi sikap yang satu dalam membela hak-hak orang-orang yang tertindas di Gaza, Lebanon, dan Suriah.
“Negara-negara Islam pada dasarnya harus saling mendukung. Jika memungkinkan, kita harus menyelesaikan perbedaan kita melalui dialog,” ucap presiden Iran.
“Pertemuan puncak ini menawarkan kesempatan berharga bagi kita untuk mempererat perspektif dan meningkatkan pengaruh diplomatik kita di kawasan ini,” pungkasnya.
Kunjungan ini menandai pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade seorang presiden Iran melakukan perjalanan ke Mesir, karena hubungan antara kedua negara telah lama tegang.
Mahmoud Ahmadinejad adalah presiden Iran terakhir yang mengunjungi Mesir pada Februari 2013 untuk menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Kunjungan Ahmadinejad saat itu merupakan kunjungan pertama presiden Iran sejak kemenangan revolusi Islam Iran tahun 1979, yang berujung pada terputusnya hubungan diplomatik dengan Mesir pada tahun 1980, dan kemudian dilanjutkan kembali setelah 11 tahun, namun hanya pada level kuasa usaha dan kantor urusan kepentingan.
Pada bulan Mei 2023, Presiden Iran saat itu Sayid Ibrahim Raisi mengarahkan Kementerian Luar Negeri agar mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memperkuat hubungan dengan Mesir, menurut laporan Kantor Berita Tasnim Iran pada saat itu.
Negara-negara anggota D-8 atau Developing Eight, adalah Indonesia, Malaysia, Iran, Turki, Mesir, Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria adalah organisasi kerja sama ekonomi yang didirikan pada tahun 1997 melalui Deklarasi Istanbul pada KTT Kepala Negara.
Organisasi ini berfokus pada peningkatan kerja sama ekonomi, mendorong pembangunan, dan mempromosikan kepentingan bersama di antara para anggotanya. (mm/presstv/raialyoum)