Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Syeikh Naim Qassem dalam sebuah pidato televisi pada hari Sabtu (15/12) mengomentari perkembangan situasi di Suriah, berharap bangsa Suriah tetap dapat bekerja sama dengan bangsa Lebanon, dan mengimbau pihak yang berkuasa di Suriah bersedia memandang Israel sebagai musuh sehingga pantang menormalisasi hubungan dengannya.
“Hizbullah menyokong Suriah (di masa pemerintahan Presiden Bashar al-Assad) adalah karena Suriah memusuhi Israel dan andil dalam penguatan perlawanan Lebanon dan Palestina melalui wilayahnya,” ujar Syeih Naim.
Dia juga mengatakan bahwa penguasa baru di Suriah tak dapat dinilai kecuali “ketika sudah stabil, mengambil sikap yang jelas, dan menata kondisi pemerintahan di Suriah.
Sekjen Hizbullah menekankan dinamika resistensi anti-Israel sehingga tidak berhenti pada batas tertentu, melainkan mampu mengubah metode demi metodenya guna menjamin kelangsungannya.
“Perlawanan harus beradaptasi dengan keadaan untuk memperkuat kemampuannya, dan yang penting ialah perlawanan ini tetap berkelanjutan dan berupaya memenuhi kebutuhannya dengan cara yang berbeda,” ucapnya.
Dia mengatakan, “Kami tidak percaya bahwa apa yang terjadi di Suriah akan berdampak pada Lebanon, melainkan sebaliknya.” Dia melanjutkan, “Situasi umum di kawasan ini secara garus besar penuh tekanan, dan bahwa Amerika dan Israel mengendalikan banyak jalur di kawasan ini. ”
Syeikh Naim Qassem mengingatkan, “Mendukung Gaza adalah tindakan yang mulia dan mulia, dan merupakan tugas kita dan semua orang Arab dan Muslim.”
Mengenai urgensi perlawanan terhadap Israel beserta segala tantangannya, Sekjen Hizbullah membuat pernyataan berikut ini;
“Bukankah Israel keluar dari jalur wilayah pendudukan di perbatasan tak lain karena perlawanan? Bukankah kami dapat menghentikan (agresi) Israel selama 17 tahun dari 2006 hingga 2023 tak lain karena perlawanan? Bukankah kemenangan (kami) pada bulan Juli, yang mencegah Timteng baru 2006, tak lain adalah berkat perlawanan?
“Kami bersama orang yang mendukung resistensi yang kami galang. Kami bersama orang yang menyerukan perlawanan yang telah dibangun, terbukti manfaatnya, dan menerangkan bahwa musuh ini (Israel) tak dapat dikendalikan dan tak dapat keluar dari tanah kita kecuali melalui perlawanan. Jadi, perlawanan berlanjut, dan setiap tahapannya memiliki jalan dan caranya sendiri.
“Yakni, perlawanan tak selalu menampak dalam satu bentuk konfrontasi. Baik-baik saja, insya Allah. Ada perkembangan dan situasi-situasi tertentu di mana kita mengubah beberapa cara dan jalan. Yang penting ialah perlawanan tetap ada, sedangkan cara dan jalannya berkorelasi dengan setiap tahapannya, dan dengan ini kami akan berbuat.
“Ya, kami membela Lebanon, karena agresi terbaru menyasar Lebanon, tak hanya terhadap kami, meskipun membidik kami secara langsung. Kami melawan agresi terhadap Lebanon ini, dan menahannya di perbatasan dengan perlawanan heroik para pejuang, dengan keteguhan mereka, dan dengan solidaritas saudara dan simpatisan kami serta seluruh kaum merdeka di Lebanon.
“Saya menganggap setiap orang Lebanon yang menyayomi dan menyokong serta menginginkan kemenangan kubu perlawanan, dan orang-orang yang memrotes Israel, adalah mitra dalam upaya mewujudkan kemenangan, karena mereka membantu, berpihak dan menyertai perlawanan. Seandainya tidak ada keteguhan ini di front pertempuran niscaya Israel sudah mencapai Beirut, dan memulai langkah-langkah selanjutnya, antara lain menempatkan para pemukim (Zionis) di Lebanon selatan, serta melemahkan kekuatan Lebanon dan mengendalikan kebijakan dan masa depannya.
“Kita berbicara bukan tentang musuh yang tak jelas, juga bukan tentang gagasan-gagasan yang tak dapat diimplementasikan. Lihatlah kejahatan musuh yang tiada taranya ini. Lihatlah apa yang mereka lakukan di Gaza. Telah jatuh 150,000 korban gugur dan luka. Terjadi penghancuran yang nyaris total terhadap Gaza.
“Mereka sendiri mengaku tak ingin keluar dari Gaza dan ingin menjadikan Gaza utara sebagai kawasan yang terlucuti senjatanya, terlucuti kehadiran sipilnya, serta terenyahkan rumah-rumah, orang-orang dan kehidupannya. Mereka memikirkan pengadaan permukiman (Zionis) di Gaza, mengaku hendak mencaplok Tepi Barat, dan berbuat demi ini, dengan dukungan penuh dari penjahat terbesar, AS, yang menyokongnya dengan segala fasilitas.” (mm/alalam)