Beirut, LiputanIslam.com – Anggota Parlemen Lebanon dan pejabat senior Hizbullah, Hassan Fadlallah, pada hari Selasa (26/11) mengatakan bahwa “kubu perlawanan ini masih terus berlanjut” setelah berakhirnya perang dengan entitas pendudukan Palestina, termasuk dengan membantu pengungsi Lebanon kembali ke desa mereka dan membangun kembali daerah-daerah yang hancur akibat serangan Israel, bekerja sama dengan lembaga-lembaga negara dan pihak lain.
“Kubu perlawanan ini adalah bagian dari perimbangan nasional yang temanya adalah tentara, rakyat, dan kubu perlawanan. Perimbangan ini tak dapat dibongkar oleh perang Israel, betapapan kerasanya. Buktinya adalah ketika Israel melakukan permusuhan terhadap Lebanon, kubu perlawanan yang berjuang di lapangan adalah kubu yang sama yang akan bekerja untuk memberikan kontribusi dalam membantu rakyat untuk kembali dan membangun kembali. Kubu resistensi adalah satu, baik di bidang konfrontasi militer maupun bidang pemulihan dari dampak agresi,” paparnya.
Fadlallah mengatakan bahwa lembaga kesehatan, sosial, dan pembangunan Hizbullah siap menghadapi hari berikutnya dan akan berkoordinasi dengan pemerintah Lebanon untuk menampung para pengungsi, membersihkan puing-puing dari daerah yang terkena dampak, menguburkan para korban, dan membantu rekonstruksi.
Fadlallah menyatakan bahwa Lebanon sedang melalui saat-saat berbahaya dan sensitif sebelum pengumuman gencatan senjata, karena meningkatnya serangan tentara Israel pada sore hari Selasa di Beirut dan pinggiran selatannya.
“Kita berada pada saat-saat yang berbahaya dan sensitif karena kita telah terbiasa dengan entitas Israel, bahwa ketika ada fase penghentian permusuhan, maka mereka akan meningkatkan serangannya terhadap wilayah Lebanon, dan inilah yang kita saksikan pada saat-saat ini berkenaan dengan penghancuran bangunan tempat tinggal dan institusi di Beirut, selatan, pinggiran selatan, Bekaa, dan berbagai wilayah,” terangnya.
Fadlallah menambahkan, “Pada saat yang sama, kita sedang menghadapi kegagalan bersejarah bagi tentara Israel, yang hingga saat ini belum mampu memaksakan kendalinya di wilayah yang ingin mereka masuki.”
Dia menambahkan, “Mereka terhalau dari garis pantai, yang tidak mereka capai, dari sektor barat wilayah Bayada, dan mereka tidak dapat mengendalikan wilayah Khiam. Tank-tanknya dihancurkan hari ini di dalam kota, dan para pejuang perlawanan masih eksis di Khiam. Juga, ketika pasukan Israel mencoba menyusup ke Sungai Litani pada titik terdekat dengan perbatasan berhasil ditahan dan dipaksa mundur hingga kabur, sementara niat mereka semula adalah mengambil gambar di pangkalan Tyre.”
Dilaporkan bahwa gencatan senjata akan mulai diterapkan sejak pukul 10.000 waktu Israel. (mm/alalam/raialyoum)