Beirut, LiputanIslam.com – Petinggi Hamas Osama Hamdan bahwa mengatakan Hamas sedang melakukan serangkaian kontak politik internasional untuk penghentian genosida yang dilakukan oleh Israel di Jalur Gaza dengan cara membunuhi dan melaparkan penduduknya untuk mengosongkan Jalur Gaza utara dari populasinya.
“Gerakan ini melakukan serangkaian kontak politik untuk menghentikan agresi, dan saya yakin komunitas internasional dan PBB sedang menghadapi ujian praktis yang serius,” kata Hamdan dalam wawancara dengan saluran Al Jazeera, hari Senin (14/10).
“Apa yang terjadi di Jalur Gaza adalah perkembangan dari proses genosida terhadap rakyat Palestina, dan komunitas internasional harus mengambil sikap tegas untuk menghentikan agresi tersebut,” sambungnya.
Dia menjelaskan,“Kami berkomunikasi dengan anggota Dewan Keamanan PBB, negara-negara regional, dan pihak-pihak Arab dan Islam untuk mengambil tindakan guna menghentikan agresi Israel.”
Dia menambahkan, “Kami menerima tanggapan positif dari beberapa pihak termasuk berkenaan dengan upaya menyerukan sidang Dewan Keamanan.”
Mengenai “rencana para jenderal” Israel, Hamdan menjelaskan bahwa “Israel meluncurkan rencana ini untuk mempermainkan emosi masyarakat Israel dan memuaskan para komandan tentara pendudukan.”
Dia menjelaskan bahwa rencana tersebut “bertujuan mengisolasi Jalur Gaza utara dengan melakukan pengepungan dan membuat wilayah tersebut menderita kelaparan disertai tekanan di manan penduduk dihabisi ataupun dipaksakan menyerah dan menuruti kemauan Israel dalam upayanya membuat citra kemenangan.”
Robot Peledak
Sementara itu, Ismail Al-Thawabta, Dirjen Kantor Media Pemerintah di Jalur Gaza, pada hari Senin mengatakan bahwa tentara Israel menggunakan “robot peledak dan tong peledak” di Jalur Gaza utara sebagai bagian dari perang genosida yang dilancarkan sejak 7 Oktober 2023.
Al-Thawabta menjelaskan, “Robot-robot bergerak semakin banyak digunakan, yaitu perangkat yang dikendalikan dari jarak jauh dan memasuki jalan-jalan dan rumah-rumah warga Palestina, lalu meledak, menyebabkan kerugian besar baik manusia maupun material dalam bentuk genosida yang brutal.”
Pada hari Sabtu lalu, sumber keamanan mengatakan bahwa senjata itu digunakan untuk pertama kalinya dalam invasi ke bekas kamp Jabalia pada Mei lalu, ketika orang-orang Palestina mendapati kendaraan pengangkut pasukan Israel memasuki rumah-rumah pemukiman.
Dia menyebutakan bahwa para pejuang Palestina mengira kendaraan itu berawak sehingga mereka menyerangnya dan menyebabkan ledakan besar di daerah tersebut yang kemudian berubah menjadi “robot yang membawa tong api yang dapat meledak.”
Al-Thawabta mengatakan, “Robot digunakan dengan sengaja dan sistematis untuk menghancurkan infrastruktur dan lingkungan pemukiman, menyebabkan kerusakan luas di wilayah yang ditargetkan, dan menyebabkan puluhan korban jiwa serta cedera.” (mm/raialyoum)