Beirut, LiputanIslam.com – Kementerian Kesehatan Lebanon mengumumkan serangan Israel di Lebanon pada hari Rabu (29/9) menggugurkan 72 orang dan melukai lebih dari 392 orang lainnya.
Pusat Operasi Darurat di Kementerian Kesehatan mengatakan, “Serangan musuh, Israel, sepanjang hari Rabu di Lebanon menyebabkan 72 orang gugur syahid, termasuk wanita dan anak-anak, dan 392 lainnya terluka.”
Sebelumnya pada Rabu, koordinator rencana darurat pemerintah Lebanon, Menteri Lingkungan Hidup Nasser Yassin, mengumumkan jumlah syuhada di Lebanon sejak 8 Oktober 2023 mencapai 1.247 orang, sementara korban luka sebanyak 5.278 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil, anak-anak, dan perempuan.
Sementara itu, Hizbullah mengumumkan peluncuran 11 operasi terhadap daerah-daerah pemukiman dan situs militer di Israel utara, terutama pangkalan Ilania, dengan tembakan rudal Fadi 1 , dan markas besar Mossad di pinggiran Tel Aviv dengan rudal balistik Qader 1.
Pada Senin pagi lalu tentara Israel mulai melancarkan serangan paling kejam, terluas dan paling intensif di Lebanon sejak konfrontasi Israel dengan Hizbullah dimulai sekitar setahun yang lalu dan sejak perang Juli 2006.
Di sisi lain, sirene terus berbunyi di Israel utara, dekat perbatasan dengan Lebanon, setelah Hizbullah meluncurkan puluhan rudal ke posisi-posisi militer dan permukiman Zionis.
Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden AS Joe Biden mengadakan pertemuan dengan sejawatnya dari Prancis, Emmanuel Macron, di sela-sela sidang Majelis Umum PBB di New York. Keduanya membahas mekanisme pencapaian gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
Kepresidenan AS menyatakan bahwa Biden dan Macron bertemu “untuk membahas upaya yang bertujuan mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah Lebanon dan mencegah perang yang lebih luas.”
Sejak tanggal 8 Oktober lalu, faksi-faksi Lebanon dan Palestina di Lebanon, terutama Hizbullah, berkonfrontasi setiap hari dengan tentara Israel dan melintasi “Garis Biru” pemisah, hingga mengakibatkan ratusan orang tewas dan terluka, yang sebagian besarnya berada di pihak Lebanon.
Faksi-faksi tersebut menuntut diakhirinya perang Israel, yang didukung AS, terhadap Jalur Gaza sejak 7 Oktober. Perang ini telah menjatuhkan korban jiwa dan luka lebih dari 137.000 orang Palestina, yang sebagian besarnya anak-anak dan perempuan, dan menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang, di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang mematikan. (mm/raialyoum)