Beirut, LiputanIslam.com – Dengan keputusan mengejutkan dari Divisi Intelijen Militer Israel, komandan Unit 8200, Brigjen Yossi Sariel, bermaksud mengumumkan pengunduran dirinya dalam beberapa minggu mendatang, menurut laporan situs web Walla Israel, Ahad (1/9).
Unit 8200 adalah salah satu unit intelijen terbesar dan terpenting dalam pasukan pendudukan Israel, dan merupakan tulang punggung intelijen elektronik serta bagian penting dari aparat intelijen militer yang bernama Aman.
Misi unit ini juga terfokus pada pengumpulan dan analisis informasi melalui sarana teknologi canggih, sehingga unit ini menjadi landasan sistem keamanan Israel.
Keputusan ini diambil sekira seminggu setelah Hizbullah menggempur markas utama Unit 8200, yang terletak di pangkalan Glilot, di dekat Tel Aviv, sebagai bagian dari serangan balasan Hizbullah terhadap agresi Israel yang menyasar kawasan Dahieh di pinggiran selatan Beirut, ibu kota Lebanon.
Keputusan ini juga diambil sekitar 11 bulan setelah operasi 7 Oktober, yang pada saat itu Divisi Intelijen dianggap sebagai salah satu pimpinan terpenting yang bertanggung jawab atas kegagalan pada hari itu.
Informasi yang dapat dipercaya dari saluran TV Al-Mayadeen memastikan bahwa balasan Hizbullah atas serangan Israel yang menggugurkan komandan seniornya, Fouad Shukr “dilakukan dengan tingkat akurasi dan keberhasilan tertinggi,” dan menekankan bahwa Hizbullah telah menyerang target militer “jauh di tengah-tengah entitas pendudukan, bukan di pinggirannya.”
Menurut informasi itu, Hizbullah berhasil mencapai sasarannya dalam serangan balasan itu, “walaupun rezim pendudukan menggunakan intelijen dan dukungan operasional yang signifikan dari Amerika Serikat, dan meskipun Israel waspada penuh dalam jangka waktu lebih dari sebulan” demi mengantisipasi serangan balasan.
Informasi itu menambahkan bahwa besarnya kewaspadaan Israel, termasuk dengan mengerahkan beberapa jet tempur di wilayah udara Lebanon, gagal mencegah rudal dan drone Hizbullah mencapai targetnya. (mm/almayadeen)