Sanaa, LiputanIslam.com – Pemimpin kelompok pejuang Ansarullah Yaman, Sayid Abdul Malik Al-Houthi, mengumumkan pelaksanaan 21 operasi militer bersenjatakan rudal, drone, dan kapal-kapal cepat dalam waktu seminggu demi membela Gaza.
Dalam pidatonya pada hari Kamis (22/8), Sayid Al-Houthi mengatakan: “Minggu ini, kami melakukan 21 operasi militer (untuk mendukung Gaza) menggunakan rudal balistik dan jelajah, drone, dan kapal cepat.”
Sebelumnya di hari yang sama, Otoritas Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengaku telah menerima laporan adanya lima ledakan di dekat sebuah kapal 57 mil laut selatan kota Aden, barat daya Yaman, tanpa ada kerusakan yang dilaporkan.
Sayid Al-Houthi dalam pidatonya menjelaskan, “Jumlah kapal yang menjadi sasaran karena hubungannya dengan Israel dan karena melanggar larangan akses ke pelabuhan Israel telah meningkat menjadi 182 kapal sejak November lalu.”
Dia juga mengatakan, “Minggu ini, koalisi AS-Inggris melancarkan lima serangan yang menyasar wilayah pesisir Hodeidah, Yaman barat…. dan serangan ini dilakukan dalam kerangka kemitraan AS untuk mendukung musuh Israel.”
Demi solidaritas dengan Gaza dalam menghadapi invasi militer Israel 7 Oktober 2023, Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah sejak November mulai melancarkan serangan rudal dan drone terhadap kapal-kapal kargo Israel atau kapal-kapal yang terkait dengannya di Laut Merah.
Menanggapi serangan Yaman tersebut, AS dan Inggris sejak awal tahun ini melancarkan serangan udara dan rudal ke Yaman, dan hal ini lantas ditanggapi oleh pasukan Yaman dengan mengumumkan bahwa mereka menganggap semua kapal AS dan Inggris sebagai bagian dari target serangan Yaman. Pasukan Yaman juga memperluas serangannya terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Arab dan Samudera Hindia atau ke mana pun yang terjangkau oleh senjatanya.
Sayid Al-Houthi juga memastikan Poros Perlawanan akan membalas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh oleh Israel, namun perencanaan yang cermat diperlukan untuk menghasilkan respon yang menyakitkan dan efektif.
“Poros Perlawanan pasti akan melancarkan operasi pembelasan yang telah dan efektif. Perencanaan yang hati-hati adalah salah satu alasan di balik penundaan implementasinya,” ujarnya.
Dia juga menyebutkan bahwa Israel tercekam ketakutan dan penderitaan yang luar biasa di tengah antisipasi serangan balasan Iran atas pembunuhan Haniyeh di Teheran. (mm/raialyoum/presstv)