
Beirut, LiputanIslam.com – Anggota senior Hamas Osama Hamdan menepis keras klaim Israel bahwa komandan militer sayap militer Hamas Brigade al-Qassam, Mohammed Deif, terbunuh oleh serangan tentara Zionis di Jalur Gaza.
Osama Hamdan, wakil Hamas di Lebanon, membantah klaim itu dalam sebuah wawancara dengan Associated Press (AP) yang diterbitkan pada hari Kamis (15/8).
Hamdan memastikan Deif “baik-baik saja” setelah pejabat dan media Israel mengklaim dia telah dibunuh.
Ini adalah yang pertama kalinya seorang pejabat senior Hamas menanggapi klaim Israel, yang pertama kali dibuat pada tanggal 1 Agustus, bahwa komandan tertinggi Hamas itu terbunuh dalam serangan udara bulan lalu.
Hamdan mengatakan kepada AP bahwa Hamas yakin Israel menyebut Deif sebagai target serangan bulan Juli untuk “membenarkan pembantaian” saat itu, yang menyebabkan 88 warga Palestina gugur dalam pemboman di zona kemanusiaan.
Deif adalah salah satu pendiri Brigade al-Qassam pada tahun 1990a-n dan telah memimpin pasukan tersebut selama lebih dari 20 tahun.
Israel telah mengidentifikasi Deif serta Yahya Sinwar, kepala biro politik baru Hamas, sebagai arsitek serangan fajar Operasi Badai Al-Aqsa, yang mengguncang Israel pada 7 Oktober 2023.
Sinwar adalah pemimpin Hamas di Gaza sebelum dia menggantikan Ismail Haniyeh yang terbunuh dalam serangan Israel di Teheran bulan lalu.
Komandan militer Hamas yang terkenal itu menjadi komandan Brigade al-Qassam pada tahun 2002 setelah Israel membunuh pendahulunya, Salah Shahada.
Deif diyakini telah membantu memperluas labirin terowongan Hamas yang membentang bak kota bawah tanah di Jalur Gaza, dan disebutkan oleh Israel sebagai jaringan yang “sangat kompleks.”
Israel melancarkan invasi militer setelah Operasi Badai al-Aqsa, sebuah operasi yang dilakukan oleh para pejuang Gaza sebagai pembalasan atas kejahatan rezim tersebut selama puluhan tahun terhadap warga Palestina.
Invasi militer Israel yang didukung AS sejauh ini telah menggugurkan hampir 40.000 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, melukai 92.294 lainnya, dan menyebabkan ribuan lainnya hilang dan diperkirakan gugur di bawah reruntuhan.
Sementara itu, mengenai putaran baru perundingan gencatan senjata sedang berlangsung di Doha, namun Hamas memilih tidak berpartisipasi di dalamnya.
Hamas pada hari Kamis mendesak para mediator untuk menegakkan perjanjian gencatan senjata yang didukung PBB daripada mengadakan lebih banyak pembicaraan mengenai perjanjian baru.
Hamas berkali-kali mengaku siap menerapkan perjanjian gencatan senjata, sementara pembantaian yang terus dilakukan Israel di Gaza membuktikan bahwa rezim Zionis tersebut tidak serius pada harapan akan adanya gencatan senjata permanen.
Hamas kembali menekankan bahwa perjanjian apa pun dengan Israel harus menjamin gencatan senjata komprehensif di Gaza, penarikan penuh pasukan Israel dan kesepakatan pertukaran tahanan.
Hamas menegaskan perjanjian tersebut juga harus memfasilitasi kembalinya warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal dan rekonstruksi wilayah yang hancur.
“Hamas memandang negosiasi yang sedang berlangsung di Doha mengenai gencatan senjata dan pertukaran tahanan dari sudut pandang strategis yang bertujuan umengakhiri agresi di Gaza,” kata pejabat Hamas Hossam Badran.
“Hamas percaya bahwa setiap negosiasi harus didasarkan pada rencana yang jelas untuk mengimplementasikan apa yang telah disepakati sebelumnya. Hambatan untuk mencapai gencatan senjata di Gaza adalah berkelitnya Israel secara terus-menerus,” sambungnya.
Dia juga mengatakan, “Perjanjian apa pun harus mencapai gencatan senjata yang komprehensif, penarikan penuh (tentara Israel) dari Gaza, (dan) pemulangan para pengungsi, serta kesepakatan pertukaran tawanan.”
Pejabat Hamas lain, Ahmad Abdul Hadi, pada hari Rabu mengatakan pihaknya “tidak akan mengambil bagian dalam pembicaraan baru” dengan rezim Israel mengenai gencatan senjata di Gaza.
Senada dengan ini, Sami Abu Zuhri yang juga pejabat senior Hamas, kepada Reuters mengatakan, “Hamas berkomitmen terhadap proposal yang diajukan pada 2 Juli,” yang didasarkan pada resolusi Dewan Keamanan PBB dan pidato Biden, dan Hamas siap untuk memulai diskusi mengenai mekanisme untuk segera menerapkannya.” (mm/presstv)