Baghdad, LiputanIslam.com – Ketua dewan politik Gerakan al-Nujaba, kelompok pejuang terkemuka Irak, Syeikh Ali al-Asadi, menyatakan bahwa pembalasan yang berpotensi dilakukan Iran terhadap Israel akan kuat dan diperhitungkan secara matang sehingga akan berdampak besar.
“Iran adalah negara yang memiliki kebijakan untuk merespons dengan serangan yang diperhitungkan dan berdampak,” kata dalam wawancara dengan jaringan televisi Irak al-Sumaria pada hari Selasa (14/8).
“Respon Iran akan sebanding dengan agresi yang terjadi di wilayahnya, dan karena itu Iran akan merespon dengan cara yang sama dan di tempat yang sama (serupa),” sambungnya.
Dia menekankan bahwa Irak dan kelompok perlawanannya akan berkontribusi pada pembalasan atas pembunuhan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh dan komandan senior Hizbullah Fuad Shukr oleh Israel.
Al-Asadi mengecam kehadiran pasukan pendudukan asing, termasuk AS, di Irak.
“Semua pejuang perlawanan mendukung pandangan kami, yaitu bahwa Amerika adalah musuh dan harus diusir dari negara ini. Sidang parlemen yang menyetujui pengusiran pasukan asing dihadiri oleh mereka yang menentang pendudukan dan menuntut pengusiran.”
Mengenai serangan para pejuang Irak terhadap pangkalan-pangkalan AS, dia mengatakan, “Kubu pejuang memahami bahwa pihak agresor hanya memahami bahasa kekerasan, dan kubu ini mulai menghadapinya dengan cara yang sama.”
Pada tahun 2020, parlemen Irak menyetujui pengusiran pasukan asing setelah serangan drone AS menggugurkan jenderal legendaris Iran Qassem Soleimani dan wakil komandan pasukan relawan Irak Al-Hash al-Shaabi, Abu Mahdi Al-Muhandis, di dekat Bandara Internasional Baghdad.
Di Irak terdapat sekira 2.500 tentara AS, sedangkan di Suriah sekira 900 tentara. Tentara pendudukan ini bercokol dengan dalih demi menumpas kawanan teroris ISIS, padahal Suriah dan Irak serta sekutunya sudah berhasil mengalahkan kawanan itu pada akhir tahun 2017. (mm/presstv)