AlQuds, LiputanIslam.com – Situs web Axios mengutip pernyataan narasumber bahwa Menteri Pertahanan Israel Yoav Galant dalam percakapan telepon dengan sejawatnya dari AS, Lloyd Austin, pada hari Minggu (11/8) telah memberitahunya bahwa Teheran sedang bersiap untuk melancarkan serangan balasan secara besar-besaran terhadap Israel.
Dua sumber mengungkapkan bahwa intelijen Israel meyakini Iran telah memutuskan untuk menyerang Israel secara langsung dan mungkin akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan. Disebutkan bahwa serangan itu merupakan balasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran pada akhir Juli.
Bersamaan dengan ini, situs web Wala melaporkan bahwa sumber-sumber Israel menyatakan penilaian intelijen menunjukkan niat Iran untuk melancarkan serangan langsung, dan bahwa terdapat perbedaan antara Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengenai bentuk serangan tersebut.
Walla menyebutkan bahwa Pezeshkian ingin menghindari respon yang keras, sementara IRGC menginginkan serangan skala besar.
Penjabat Menteri Luar Negeri Iran Ali Bagheri Kani di hari yang sama menyatakan balasan Iran adalah sah dan akan tegas.
Dalam panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri Belgia Hadjah Lahbib, Kani mengatakan, “Sejalan dengan pembelaannya terhadap keamanan nasional, integritas wilayah dan kedaulatan nasional, dan berdasarkan hukum internasional, prosedur internasional dan Piagam PBB, Iran akan membuat Israel membayar mahal, dengan tindakan yang sah dan tegas.”
Sebelumnya, dalam sebuah pernyataan kepada AFP pada hari Kamis Bagheri Kani menyebut pembunuhan Haniyeh sebagai “kesalahan strategis yang akan disusul akibat yang sangat tinggi”. Dia menganggap Israel “ingin mengekspor ketegangan, perang, dan krisis dari Gaza ke Gaza kawasan lain.”
Dia menambahkan bahwa respons tersebut “akan memakan banyak biaya,” namun “hal ini demi kepentingan keamanan dan stabilitas, dan pada gilirannnya demi kepentingan semua negara di kawasan.”
Intensitas ketegangan di Timur Tengah meningkat dua kali lipat setelah serangan Israel menggugurkan kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Teheran, dan pembunuhan komandan senior Hizbullah, Fouad Shukr, di pinggiran selatan Beirut pekan lalu.
Israel mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan Shukr, namun memilih bungkam terkait dengan pembunuhan Haniyeh.
Iran dan Hamas menuduh Israel membunuh Haniyeh, dan mereka bersumpah akan membalas bersama Hizbullah Lebanon, sehingga timbul kekhawatiran akan peningkatan eskalasi yang lebih besar di kawasan Timur Tengah dengan latar belakang perang Gaza, yang telah memasuki bulan kesebelas. (mm/raialyoum)