Teheran, LiputanIslam.com – Penasihat Panglima Korps Garda Revolusi (IRGC) Iran, Hujjatul Islam Hossein Taeb, mengatakan bahwa reaksi balasan Iran terhadap Israel atas pembunuhan kepala biro politik Hamas, Ismail Haniyeh, akan “baru dan mengejutkan.”
“Operasi yang dirancang untuk membalas darah syahid Ismail Haniyeh akan menjadi hal baru dan mengejutkan,” ungkapnya, Ahad (4/8).
“Skenario yang dirancang untuk membalas darah Syahid Haniyeh tergolong skenario yang tak terbaca,” sambungnya.
Dia juga mengatakan, “Situasi sosial entitas Zionis (Israel) mengalami guncangan, karena mereka tidak mengetahui bagaimana skenario Iran, dan tidak ada yang berinvestasi di Israel secara ekonomi, dan modal meninggalkan kawasan itu.”
Juli lalu, surat kabar Israel Maariv melaporkan sebanyak 46.000 perusahaan Israel telah menutup usahanya sejak pecahnya perang di Gaza pada tanggal 7 Oktober, dan diperkirakan jumlahnya akan meningkat menjadi 60.000 perusahaan pada akhir tahun ini.
Penasihat panglima IRGC menyebutkan bahwa “(Perdana Menteri Israel Benjamin) Netanyahu ingin mengubah kekalahannya melawan Hamas menjadi perang regional, dan membawa AS ke dalam perang.”
Dia menekankan bahwa “era hegemoni AS telah berlalu, dan kebijakan-kebijakannya tidak dapat menjadi pencegah.”
Hingga berita ini disusun, belum ada komentar langsung dari israel mengenai pernyataan Hossein Taeb, namun para pejabat Israel sebelumnya mengaku siap menghadapi skenario apa pun.
Israel sedang menunggu tanggapan militer dari Iran dan Hizbullah, dan meningkatkan status siaga ke tingkat maksimum, menyusul pembunuhan Haniyeh di Teheran, dan setelah tentara Israel mengumumkan pembunuhan komandan senior Hizbullah Fouad Shukr.
Perang Israel di Jalur Gaza, yang mendapat dukungan mutlak dari AS, telah menjatuhkan korban jiwa dan luka sekira 130.000 orang Palestina, yang sebagian besar adalah anak-anak dan wanita, dan menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang, dalam salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.
Dalam peristiwa terbaru, Dinas Pertahanan Sipil Palestina di Jalur Gaza mengumumkan pada hari Ahad bahwa jumlah warga Palestina yang gugur dalam pemboman Israel yang menargetkan sekolah Al-Nasr dan Hassan Salama di Kota Gaza mencapai 30 orang.
Juru bicara badan tersebut, Mahmoud Basal, mengatakan , “30 warga Palestina menjadi gugur dan puluhan lainnya, kebanyakan dari mereka anak-anak, terluka akibat pemboman Israel di sekolah Hassan Salama dan Al-Nasr, yang menampung para pengungsi di sekolah Al-Nasr di lingkungan Nasr.”
Hal ini menjadikan jumlah sekolah yang menjadi sasaran tentara Israel dalam waktu kurang dari 24 jam menjadi tiga gedung, yang semuanya berlokasi di Kota Gaza. (mm/irna/raialyoum)