AlQuds, LiputanIslam.com – Tentara Israel menyerahkan skenario kepada pemerintah untuk melancarkan kemungkinan serangan terhadap Hizbullah Lebanon, menurut laporan media resmi Israel pada hari Ahad (28/7).
Hal ini terjadi sehari setelah jatuh beberapa korban tewas dan luka dalam sebuah insiden serangan roket misterius di kota Majdal Shams yang berwarga Druze, di bagian utara Dataran Tinggi Golan Suriah, yang diduduki Israel sejak tahun 1967.
Radio militer Israel menyatakan bahwa tentara telah merumuskan skenario kemungkinan serangan terhadap Hizbullah, dan menempatkannya di meja tingkat politik (pemerintah) dalam diskusi untuk menilai situasi.
Disebutkan bahwa salah satu skenarionya adalah kemungkinan “aksi militer yang lebih keras” di Lebanon.
Radio tersebut mengutip pernyataan pejabat anonim Israel bahwa Tel Aviv tidak berniat melancarkan perang menyeluruh terhadap Lebanon.
“Kami ingin mencelakakan Hizbullah, namun tidak terlibat dalam perang regional yang luas,” ungkap pejabat itu.
Kabinet Israel sendiri telah memulai sesi darurat pada hari Minggu untuk mengevaluasi situasi keamanan, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, setelah insiden Majdal Shams.
Otoritas penyiaran resmi Israel melaporkan bahwa kabinet politik—keamanan mulai mengadakan sidang di markas besar Kementerian Pertahanan di Tel Aviv, dipimpin oleh Netanyahu, dengan partisipasi Menteri Pertahanan Yoav Gallant, Kepala Staf Angkatan Darat Herzi Halevy, dan perwira tinggi keamanan lainnya.
Pada hari Sabtu, 12 orang warga Druze, sebagian besarnya anak-anak, terbunuh, dan sekitar 40 lainnya terluka akibat roket yang jatuh di lapangan sepak bola di Majdal Shams, menurut surat kabar Israel Yedioth Ahronoth.
Tentara Israel menuduh Hizbullah berada di balik serangan itu dan mengancam akan membalasnya, namun Hizbullah menepis keras tuduhan tersebut.
Selama beberapa dekade, Israel telah menduduki wilayah Lebanon di selatan.
Hizbullah menyatakan baru akan berhenti melakukan pemboman terhadap Israel jika Israel mengakhiri invasi militernya di Jalur Gaza, yang dilakukan sejak 7 Oktober 2023. Invasi militer Zionis ini telah menjatuhkan korban jiwa dan luka orang Palestina sebanyak lebih dari 30.000 orang, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita, dan menyebabkan lebih dari 10.000 orang hilang. (mm/raialyoum)