Beirut, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Hizbullah Lebanon mengumumkan pihaknya telah mengebom “untuk pertama kalinya” permukiman Tzuriel di Israel utara, dengan puluhan roket Katyusha.
“Kubu resistensi Islam memasukkan daerah permukiman Tsoreal ke dalam agenda serangannya, dan telah membomnya untuk pertama kalinya dengan puluhan roket Katyusha, sebagai respon atas serangan Israel yang menyasar warga sipil di distrik Hanin dan melukai satu keluarga di sana,” ungkap Hizbullah, Senin (22/7).
Sebelumnya, Kantor Berita resmi Lebanon, NNA, melaporkan bahwa seorang gadis terluka akibat serangan Israel di Hanin.
Media Israel melaporkan bahwa sekitar 10 roket diluncurkan pada Senin malam dari Lebanon menuju kota-kota yang penduduknya belum dievakuasi di Galilee Barat, utara Israel, dan beberapa di antaranya dicegat di angkasa kota Akko.
Pejabat otoritas Penyiaran Israel mengatakan, “Sirene alarm berbunyi di kota-kota yang belum dievakuasi di Galilea Barat, dan roket dicegat di langit Acre.”
Otoritas Tel Aviv telah mengevakuasi penduduk di banyak kota yang berdekatan di sekitar perbatasan Lebanon sejak awal perang ke hotel dan wisma di Israel tengah dan selatan.
Radio militer Israel pada Senin malam mengatakan bahwa 10 roket diluncurkan dari Lebanon menuju Galilee Barat, dan sebagian besar dicegat.
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth melaporkan,“Setelah sirene dibunyikan di sejumlah kota di Galilee Barat, serangkaian roket diluncurkan ke wilayah tersebut dari wilayah Lebanon. Warga melaporkan bahwa sebuah roket jatuh di dekat sebuah mobil dan menyebabkan kerusakan pada jalan dekat Moshav Tzuriel (pemukiman).”
Sebuah rumah di pemukiman yang sama juga rusak akibat diterjang roket, menurut sumber yang sama.
Media Israel tidak menyebutkan apakah ada korban jiwa akibat roket tersebut.
Sejak 8 Oktober 2023, Hizbullah terlibat konfrontasi dengan tentara Israel, melintasi “Garis Biru” yang memisahkan, hingga jatuh ratusan korban jiwa dan cedera.
Hizbullah menegaskan pihaknya baru akan menghentikan pemboman terhadap Israel jika rezim Zionis ini menyudahi perangnya yang didukung AS terhadap Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Perang ini telah mengakibatkan sekitar 129.000 orang Palestina gugur dan terluka, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita. (mm/raialyoum)