Teheran, LiputanIslam.com – Iran telah menyelenggarakan pemungutan suara putaran kedua pilpres pada hari Jumat (5/7).
Tempat pemungutan suara pada pemilihan presiden putaran kedua Iran telah ditutup setelah tiga perpanjangan waktu diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri untuk mengakomodasi lebih banyak pemilih di tengah besarnya jumlah pemilih.
Juru bicara markas pemilu Iran, Mohsen Eslami, dalam konferensi pers mengumumkan berakhirnya proses pemungutan suara.
Dia menjelaskan bahwa penghitungan suara segera dimulai di beberapa TPS, dan akan dimulai di berbagai TPS lain setelah mereka yang masih berada di dalam dan mengantri memberikan suaranya.
Dua kandidat, Masoud Pezeshkian dan Saeed Jalili, bersaing untuk menduduki jabatan eksekutif puncak Republik Islam Iran setelah memperoleh suara terbanyak dalam pemungutan suara 28 Juni.
Pezeshkian adalah seorang mantan anggota parlemen dan mantan menteri kesehatan, sementara Jalili sebelumnya menjabat sebagai pemimpin negosiator nuklir dan kepala Dewan Tinggi Keamanan Nasional.
Pada putaran pertama pemilu tanggal 28 Juni, TPS tetap buka hingga tengah malam waktu setempat, dengan jumlah pemilih akhir sekitar 40 persen, seperti yang dicatat oleh Kementerian Dalam Negeri.
Dalam pemilu putaran kedua hari Jumat, lebih dari 30 juta suara diberikan atau setara dengan lebih dari 50 persen jumlah pemilih karena semakin banyak orang berbondong-bondong datang ke tempat pemungutan suara di Teheran serta berbagai kota dan daerah lain.
Sekitar 61 juta orang berhak memilih pada pemilihan presiden tahun ini, termasuk sekitar 10 juta warga negara Iran yang berhak memilih di luar negeri.
Kecuali Kanada, dimana pihak berwenang mempersulit pendirian tempat pemungutan suara bagi warga negara Iran untuk ikut serta dalam pemilu putaran kedua, negara-negara lain menawarkan kerja sama dalam memfasilitasi proses tersebut.
Penghitungan suara akan berlanjut sepanjang malam, dengan hasil akhir yang kemungkinan akan diumumkan pada Sabtu pagi.
Pemilihan presiden cepat diadakan setelah mendiang Presiden Sayid Ebrahim Raisi bersama tujuh orang lainnya gugur akibat kecelakaan helikopter yang membawa mereka pada 19 Mei. (mm/presstv)