Sanaa, LiputanIslam.com – Militer Yaman kubu Ansarullah pada hari Senin (1/7) mengumumkan pihaknya menyerang empat kapal dengan rudal balistik dan rudal jelajah.
Disebutkan bahwa satu kapal Israel, satu kapal AS, dan satu ketiga Inggris, telah menjadi target serangan tersebut, dan satu lagi adalah kapal yang “melanggar larangan akses ke pelabuhan Palestina pendudukan.”
“Kapal Israel MSC Unific menjadi sasaran sejumlah rudal jelajah di Laut Arab, dan serangan ini tepat mengena sasaran. Operasi kedua, yang dilakukan oleh pasukan rudal dan AL dengan sejumlah rudal balistik dan balistik, menyasar kapal minyak AS Delonix di Laut Merah untuk kedua kalinya pada minggu ini,” ungkap juru bicara militer Yaman, Brigjen Yahya Saree.
Saree menambahkan, “Operasi ketiga dilakukan dengan rudal jelajah dan menyasar kapal pendarat Inggris Anvil Point di Samudera Hindia, dan serangan ini tepat mengena target.”
Lebih lanjut, tanpa menyebutkan afiliasi kapal terakhir, dia mengatakan, “Operasi keempat dilakukan oleh pasukan rudal dengan sejumlah rudal jelajah dan menyasar kapal Lucky Sailor di Laut Mediterania karena perusahaan pemiliknya melanggar larangan masuk ke pelabuhan-pelabuhan Palestina pendudukan.”
Seperti diketahui, militer Yaman kerap melancarkan operasi serangan demikian sejak beberapa bulan lalu tak lain demi membela rakyat tertindas Palestina yang menjadi sasaran aksi genosida rezim Zionis Israel yang didukung oleh AS, Inggris dan beberapa negara Eropa lain.
Pengakuan Kapten Kapal AS
Jaringan CBS News yang berbasis di AS melakukan wawancara dengan kapten kapal perusak AS USS Carney, Jeremy Robertson, sehubungan dengan tantangan di Laut Merah yang ditimbulkan oleh operasi militer Angkatan Bersenjata Yaman kubu Ansarullah terhadap kapal-kapal Israel dan kapal-kapal yang melanggar blokade Yaman terhadap Israel.
Pada Mei lalu, kapal perusak USS Carney pulang ke Mayport, Florida, dari perjalanannya selama tujuh bulan ke wilayah Timur Tengah.
Dalam wawancara tersebut, Robertson mengatakan, “Perang mengubah pengerahan rutin menjadi baku tembak melawan Yaman. Sudah lama sekali tidak ada kapal Angkatan Laut (AL) AS yang melakukan pertempuran seperti ini sejak Perang Dunia II.”
Saat menceritakan perkembangan situasi di Laut Merah, dia mengakui bahwa rudal balistik adalah senjata yang paling membuatnya kuatir.
“Anda melihat sesuatu datang ke arah Anda dengan kecepatan Mach 5, atau Mach 6. Anda memiliki waktu antara 15 dan 30 detik untuk terlibat,” ungkapnya, seperti dikutip Al-Mayadeen, Senin (1/7).
Menurutnya, ini merupakan ujian kongkret dan nyata pertama kalinya bagi Angkatan Laut AS dalam menghadapi rudal supersonik.
“Komputer menentukan ke mana arahnya dan ketinggiannya, dan semua itu (berlangsung) dengan sangat cepat, tentu saja, tapi orang harus menekan tombolnya,” tuturnya.
Robertson menyebutkan bahwa kapal USS Carney dijadwalkan lepas landas untuk mengisi bahan bakar dan mengisi kembali persediaannya di laut, tapi kapal tersebut harus pergi ke pelabuhan untuk memuat lebih banyak rudal, yang terlalu besar untuk diangkut.
Dia mengkonfirmasi kepada CBS News bahwa kapal perusak AS menembakkan rudal senilai 1 juta USD terhadap drone senilai 1000 USD. Dia lantas mengakui bahwa USS Carney dan kapal-kapal AL lainnya, yang berpatroli di Laut Merah, tidak mampu menghalau serangan Yaman sepenuhnya, dan ketika USS Carney pulang pun, pertempuran di Laut Merah belum berakhir.
Pemimpin gerakan Ansar Allah, Abdul-Malik al-Houthi, menekankan bahwa kemampuan rudal canggih Angkatan Bersenjata Yaman tidak dapat dihindari atau dicegah, dan bahwa operasi di Yaman “jelas mempengaruhi AS, Israel dan Inggris. ”
Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayid Abdul-Malik al-Houthi, memastikan kemampuan rudal canggih militer Yaman tidak dapat dihindari atau dicegah, dan bahwa operasi di Yaman “jelas mempengaruhi pasukan AS, Israel dan Inggris. ” (mm/almayadeen/ alalam)