Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah pada hari Kamis (27/6) menyebut Republik Islam Iran sebagai negara “pembela semua bangsa regional dan penghalang yang membendung semua imperialis.”
Dalam pidato pada momen peringatan 40 hari gugurnya Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi beserta sejumlah orang yang bersamanya dalam kecelakaan helikopter, Sayid Nasrallah atas nama Hizbullah dan rakyat Lebanon serta semua gerakan resistensi kembali menyatakan belasungkawanya kepada Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei, para pejabat Iran, keluarga korban kecelakaan serta rakyat Iran atas tragedi tersebut.
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, bangsa Iran melalui kehadirannya secara langsung, dan utamanya adalah interaksi mereka dengan peristiwa kecelakaan itu, serta ketenangan umum dan stabilitas di Iran menjadi teladan bagi seluruh dunia,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, “Musuh yang semula mengintai, menanti-nanti, berharap-harap dan mulai berkasak-kusuk mengenai (potensi) kekacauan di sana sini di Iran, malah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri betapa Iran tenang di tengah peristiwa ini.”
Sayid Nasrallah menambahkan, “Demikian pula halnya partisipasi jutaan orang dalam prosesi pemakaman syuhada Sayid Raisi, Dr. Abdollahian, Ayatullah Al-Hasyimi dan orang-orang tercinta lain yang gugur bersama mereka. Prosesi di berbagai kota disaksikan oleh dunia, termasuk kita di luar negeri. Partisipasi akbar ini merupakan pesan kuat bagi kawan maupun lawan. Kawan yang gelisah menjadi tenang dan percaya ketika melihat partisipasi jutaan orang itu, sementara musuh yang semula menggantungkan harapan (pada tragedi itu akhirnya) frustasi, dan menyadari betapa mereka berhadapan dengan bangsa yang hidup, eksis, berkesadaran tinggi, dan berloyalitas tinggi pula. Yakni, proses ini mengekspresikan loyalitas yang sangat besar.”
Sekjen Hizbullah juga mengatakan, “Dari segi kepemimpinan dan administrasi, Republik Islam Iran juga telah melanjutkan kehidupan sehari-harinya secara normal. Berbagai lembaga terus membaik, para pejabat pengganti dipilih, persiapan pilpres dilakukan, dan seterusnya. Di dunia peristiwa kecelakaan sedemikian rupa berpotensi menimbulkan kekacauan dan kecemasan serta dampak yang krusial secara politik, ekonomi, dan mental. Tapi, alhamdulillah, berkat kebijaksanaan pemimpin, para pejabat dan rakyat di Iran, negara ini dapat keluar dari tragedi ini dengan kepala tegak dan terhormat serta menampilkan teladan yang luhur dan tinggi ihwal negara republik Islam yang berdiri tegak menghadapi segala tantangan, dan bagaimana ia dapat mengatasi segala musibah, melanjutkan pekerjaan dan perjalanan.”
Senada dengan ini, di hari yang sama, Sekjen Jihad Islam Palestina (PIJ) Ziyadh Nakhaleh, mengatakan bahwa Sayid Ebrahim Raisi dan menteri luar negerinya “dalam beberapa tahun terakhir telah mempersembahkan banyak prestasi bagi kemaslahatan kawasan (Timur Tengah)” serta gigih membela Palestina dan telah berbuat apa yang sudah seharusnya mereka lakukan.
Nakhaleh berterima kasih kepada para pemimpin dan rakyat Iran atas segala bentuk dukungan mereka kepada Palestina pasca operasi serangan faksi-faksi Palestina bersandi Badai Al-Aqsa terhadap Israel.
Sementara itu, istri yang telah ditinggal oleh Sayid Ebrahim Raisi, Jamilah Alam Al-Huda, mengatakan bahwa Iran kembali membuktikan statusnya sebagai “satu keluarga” ketika semua elemen bangsa negara ini kembali menyatakan belasungkawa mereka kepada Ayatullah Khamenei pada momen 40 hari gugurnya Sayid Raisi dan orang-orang yang menyertainya.
Dia juga menegaskan bahwa perselisihan Iran dengan negara-negara Barat tak lain adalah karena pemerintah Iran beritikad kuat untuk “mengabdi kepada rakyat”. (mm/almayadeen/raialyoum)