Sanaa, LiputanIslam.com – Komandan Angkatan Darat Iran Brigjen Kioumars Heidari memastikan reaksi Poros Resistensi akan sengit dan telak rezim jika Zionis Israel memulai perang baru di Lebanon. Di pihak lain, Kepala Staf Militer AS Jenderal Charles Brown mengatakan bahwa Iran kemungkinan tidak akan tinggal diam jika eksistensi Hizbullah terancam.
Kioumars Heidari menyatakan hal tersebut pada hari Ahad (23/6) menyusul santernya pengakuan Israel akan melancarkan perang besar-besaran terhadap kelompok pejuang Hizbullah yang berbasis di Lebanon.
Heidari mengatakan bahwa serangan bersandi Janji Sejati yang dilancarkan Iran pada 13 April lalu sebagai balasan atas serangan Israel terhadap Konsulat Iran Suriah telah “mengubah kondisi dan perimbangan kekuatan militer di kawasan Asia Barat (Timteng) dan merombak banyak formula lama serta menciptakan situasi baru”.
Menurutnya, Iran sebagai kekuatan baru di kawasan telah berhasil menunjukkan kemampuannya kepada dunia dengan melakukan serangan rudal terhadap sasaran Israel di wilayah pendudukan Palestina.
Pada 1 April, Israel melancarkan serangan udara terhadap bagian konsuler Kedubes Iran di Damaskus, ibu kota Suriah. Serangan ini menggugurkan dua jenderal Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Mohammad Reza Zahedi dan Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi, dan lima petugas pendampingnya.
Sebagai pembalasan, IRGC menggempur Israel pada 13 April dengan badai drone dan rudal bersandi Operasi Janji Sejati.
Menyinggung kejahatan Israel di Gaza selama sembilan bulan terakhir, Heidari mengatakan bahwa rezim tersebut telah terjebak pada kubangan mematikan di Jalur Gaza.
“Ancaman rezim terhadap Hizbullah Lebanon bukanlah isu baru,” imbuhnya.
Rezim Israel mulai melancarkan serangan sporadis terhadap Lebanon setelah melancarkan perang genosida yang sedang berlangsung di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, yang memicu konfrontasi dengan Hizbullah.
Baku tembak antara Israel dan Hizbullah semakin intensif sejak komandan senior Hizbullah Sami Taleb Abdullah gugur diserang Israel. Hizbullah membalas dengan menembakkan ratusan roket ke bagian utara wilayah pendudukan.
Pada hari Selasa, militer Israel mengaku menyetujui rencana serangan terhadap Lebanon, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa rezim tersebut bisa jadi akan mewujudkan ancamannya untuk mengubah Lebanon menjadi Gaza kedua.
Di pihak lain, Sekjen Hizbullah Sayid Hassan Nasrallah dalam pidato belum lama ini menegaskan bahwa jika Israel mengobarkan perang besar terhadap Lebanon maka kubu resistensi akan berperang “tanpa aturan dan batasan”.
Sementara itu, Kepala Staf Militer Gabungan AS, Jenderal Charles Brown, pada hari Ahad mengatakan bahwa serangan Israel di Lebanon dapat meningkatkan risiko konflik lebih luas yang akan menyeret Iran dan militan sekutunya ke dalamnya, terutama jika keberadaan Hizbullah terancam.
Brown tidak mengungkapkan ekspektasinya mengenai langkah selanjutnya yang bisa diambil Israel, namun dia mengakui hak Israel untuk membela diri.
Brown memperingatkan bahwa melancarkan serangan terhadap Lebanon “dapat meningkatkan kemungkinan konflik yang lebih luas.”
“Hizbullah lebih mampu dibandingkan Hamas dalam hal kemampuan keseluruhan, jumlah rudal dan sejenisnya,” kata Brown kepada wartawan sebelum singgah di Cape Verde dalam perjalanannya untuk berpartisipasi dalam perundingan pertahanan regional di Botswana.
Dia juga mengatakan, “Saya hanya ingin mengatakan bahwa saya melihat Iran lebih cenderung memberikan dukungan lebih besar kepada Hizbullah.” (mm/presstv/raialyoum)