Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah Lebanon, Sayid Hassan Nasrallah, memperingatkan bahwa kelompoknya akan bertempur tanpa batas jika terjadi perang yang lebih luas dengan Israel, dan bahwa di Israel tidak akan ada tempat yang aman dari serangan Hizbullah.
Dalam pidato pada hari Rabu (19/6) dia memastikan Hizbullah telah mempersiapkan diri “untuk hari-hari terburuk, dan musuh (Israel) tahu apa yang menantinya dan karena itu tetap terhalang.”
Dia mengatakan Israel mengetahui bahwa tidak ada tempat yang akan tetap aman bagi entitas Zionis dari serangan rudal dan drone presisi Hizbullah, yang tidak akan membom target “secara acak.”
Ditujukan kepada AS yang dinilainya mencoba mengintimidasi Lebanon, Sayid Nasrallah menandaskan, “AS khawatir terhadap kondisi entitas musuh, dan musuh pun juga harus takut. Adapun kami, kami akan melanjutkan solidaritas dan dukungan kami untuk Gaza, dan kami akan siap dan hadir untuk segala kemungkinan. Tidak ada yang bisa menghentikan kami melakukan tugas kami.”
Dia lantas menekankan, “Solusinya sederhana , yaitu penghentian perang di Jalur Gaza.”
Pemimpin Hizbullah menegaskan bahwa rezim penjajah Palestina mengetahui bahwa apa yang juga menanti mereka di Laut Mediterania “sangatlah besar,” karena “semua pantai dan kapal akan menjadi sasaran.”
Dia juga memperingatkan Siprus untuk pertama kalinya dengan mengatakan Hizbullah mungkin menganggapnya sebagai “bagian dari perang” jika mereka terus mengizinkan Israel menggunakan bandara dan pangkalan Siprus untuk melakukan latihan militer.
Menurut Sekjen Hizbullah, Israel tidak ingin mengubah front utara menjadi front yang menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan karena itu Israel sengaja menyembunyikan kerugian yang ditimpakan oleh Hizbullah.
Dia menyebutkan pihaknya telah memperoleh informasi baru dan akurat tentang posisi-posisi musuh di perbatasan, dan memiliki banyak sekali informasi.
“Apa yang kami publikasikan kemarin hanyalah sebagian kecil dari durasi panjang yang difilmkan di Haifa,” tuturnya, mengacu pada rekaman video berdurasi lebih dari 9 menit yang diambil drone Hodhod yang menghebohkan Israel karena telah terbang jauh ke kota Haifa dengan leluasa dan kemudian kembali ke Lebanon membawa hasil pantauannya tanpa terdeteksi oleh radar Israel.
Dia menambahkan, “Apa yang menanti rezim pendudukan jauh lebih besar, dan kami siap menghadapinya. Jika perang diberlakukan di Lebanon, kubu resistensi (Hizbullah) akan berperang tanpa ketentuan, tanpa aturan main, dan tanpa batasan, dan musuh harus menunggu kami di darat , laut, dan udara. Front (pertempuran) tidak akan berhenti sampai agresi di Jalur Gaza berhenti sepenuhnya.”
Sayid Nasrallah memastikan pihaknya telah sangat mengganggu roda perekonomian di Israel utara.
“Bahkan jika kami tidak punya niat perang, musuh takut dan terus memperkuat pasukannya di utara, dan ini mempengaruhi front Gaza,” sambungnya.
Sayyid Nasrallah juga mengatakan, “Penyerbuan terhadap Galilea adalah kemungkinan yang masih ada dan relevan untuk perang apa pun yang dilancarkan oleh rezim pendudukan terhadap Lebanon.”
Dia menilai bahwa demi perang urat saraf dan perang media, Israel enggan mengakui besarnya kerugian jiwa dan materi yang dideritanya dalam konfrontasi dengan Hizbullah.
“Musuh takut urusannya menjurus pada perang, yang akan sangat berpengaruh pada front Gaza, dan hal ini memaksanya untuk berhemat amunisi…. Tekanan besar dari front Lebanon selatan, selain dari berbagai front lain, berpengaruh pada front negosiasi mengenai hasil perang,” lanjutnya.
Sayid Nasrallah mengatakan bahwa karena tak sanggup menjalani perang multi-front maka Israel melimpahkan front Yaman kepada AS dan Inggris, dan dalam hal ini dua armada terpenting di dunia ternyata gagal mencegah serangan Yaman terhadap kapal-kapal yang berlayar menuju Israel.
Sekjen Hizbullah menyebut Israel tersengal-sengal dan hanya dapat mengandakan “kemenangan palsu” untuk disampaikan kepada masyarakatnya. (mm/raialyoum)