Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, menyatakan bahwa tragedi dan aksi pembantaian yang dilakukan pasukan Zionis Israel di Rafah, selatan Jalur Gaza, merupakan satu pelajaran bagi orang yang menggantungkan harapan pada khalayak dan hukum internasional untuk melindungi Lebanon dari agresi Israel.
Dalam pidato Nasrallah yang disiarkan televisi pada peringatan tiga hari wafat ibunya, Selasa (28/5), Sayyid Nasrallah menekankan bahwa tragedi itu “menegaskan kebrutalan dan pengkhianatan musuh,” dan bahwa “kita menghadapi musuh yang tak punya nilai atau moral, dan bahkan melampaui Nazi” serta “menghilangkan semua kosmetik palsu,” yang bertujuan mengesankan Israel sebagai “entitas yang beradab.”
Pemimpin Hizbullah menekankan keharusan mengutuk pembantaian itu, yang juga harus menjadi alasan kuat bagi dunia untuk memberikan tekanan demi menghentikan agresi terhadap Jalur Gaza, dan “harus menyadarkan semua orang yang lalai dan diam di dunia ini. ”
“Pembantaianoleh Israel itu hendaklah menjadi pelajaran bagi kita, dan bagi mereka yang bertaruh pada komunitas internasional dan hukum internasional untuk melindungi Lebanon (dari agresi Israel),” ujarnya, sebagai tanggapan terhadap suara-suara internal di Lebanon yang menyerukan kepada Hizbullah untuk menghentikan serangannya terhadap Israel agar tidak menyeret negara ini pada perang yang lebih luas.
“Israel menentang keinginan dunia, komunitas internasional, dan Mahkamah Internasional, yang memerintahkan penghentian serangan terhadap Rafah…. Lihatlah masyarakat internasional, yang tidak berdaya, lemah serta berpuas dengan sebatas mengeluarkan pernyataan keprihatinan dan kecaman,” sambungnya.
Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Anak-anak dan ibu-ibu di Rafah berteriak di telinga semua orang yang lalai, bodoh, terputus dari kenyataan, dan menyangkal kenyataan sehari-hari.”
Israel membunuh 45 warga Palestina dan melukai 249 orang lainnya, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan perempuan, dengan serangan udara terhadap tenda-tenda pengungsi di daerah Tal al-Sultan, barat laut Rafah, pada hari Ahad lalu, meskipun lokasi yang diserang merupakan bagian dari daerah-daerah yang telah dinyatakan oleh tentara Israel sebagai kawasan yang aman bagi pengungsi.
Peristiwa itu membangkitkan kecaman internasional, namun tentara Israel malah kembali menyerang daerah Tal al-Sultan pada dini hari Selasa hingga mengakibatkan tujuh warga Palestina gugur dan beberapa lainnya luka-luka.
Tak cukup dengan itu, pada Selasa sore tentara Israel juga membunuh 21 warga Palestina dan melukai beberapa lainnya dalam pembantaian baru yang dilakukan dengan serangan udara terhadap kamp pengungsi di wilayah Al-Mawasi, wilayah utama yang diklaim sebagai “aman” mereka di awal masuknya pasukan Zionis ke Rafah pada 6 Mei lalu.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan perang dahsyat di Gaza hingga jatuh korban jiwa dan luka sebanyak lebih dari 117.000 orang, yang sebagian besarnya adalah anak-anak dan wanita, dan sekira 10.000 orang hilang di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang telah merenggut nyawa banyak anak kecil dan orang tua.
Sebagai solidaritas dengan Gaza dalam menghadapi perang ini, faksi-faksi Lebanon dan Palestina di Lebanon, terutama Hizbullah, terlibat pertempuran dengan tentara Zionis setiap hari dengan melintasi “garis biru” pemisah hingga jatuh banyak korban jiwa dan luka pada kedua belah pihak. (mm/raialyoum)