Teheran, LiputanIslam.com – Kepala Biro Politik Hamas, Ismail Haniyeh, berkunjung ke Iran dalam rangka belasungkawa atas gugurnya Presiden Iran Sayid Ebrahim Raisi dan Menlu Hossein Amir Abdollahian serta beberapa rekan mereka. Di Teheran, Haniyeh menyampaikan pidatonya pada prosesi pemakaman pada hari Rabu (2/5) di mana Pemimpin Besar Iran Ayatullah Sayid Ali Khamenei juga telah mengimami shalat jenazah.
Berikut ini adalah terjemahan pidato lengkap Ismail Haniyeh pada momen tersebut;
Bismillahirrahmanirrahim. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga rahmat dan salam sejahtera tercurah kepada penghulu para rasul, pemimpin mujahidin, panutan orang-orang yang wajahnya bercahaya, serta keluarga dan segenap sahabatnya.
Maha Benar (Allah) Yang telah berfirman;
Setiap yang bernyawa tidak akan mati, kecuali dengan izin Allah sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.
“ Siapa yang menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu dan siapa yang menghendaki pahala akhirat, niscaya Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu. Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imran: 145)
Saudara dan saudari yang mulia, kami datang hari ini atas nama bangsa Palestina, yang bertahan di tanah Palestina, atas nama faksi-faksi resistensi di tanah Palestina, dan atas nama Gaza yang mulia, untuk menunaikan kewajiban belasungkawa dan takziyah kepada para pemimpin, pemerintah dan rakyat Republik Islam Iran serta keluarga-keluarga mulia atas wafatnya insan-insan luhur ini;
Yang Mulia Presiden Dr. Mohammad Ebrahim Raisi dan Menlu Dr. Amir Abdollahian, dan demikian pula orang-orang yang menyertai keduanya dalam kepergian ini, sehingga terjadilah takdir rabbani ilahi ini. Kami memohon semoga Allah Swt mencurahkan rahmatNya yang luas kepada mereka, dan menempatkan mereka pada surgaNya nang lapang.
Pada bulan suci Ramadhan kami telah mengadakan pertemuan dengan Presiden – semoga Allah merahmatinya- pada kunjungan kami ke Teheran.
Kami menyimak ketetapan-ketetapan politik nan kuat Republik Islam Iran soal Palestina.
Pembicaraan beliau menyorot banyak poin, termasuk tiga poin. Pertama ialah bahwa isu Palestina merupakan isu sentral umat Islam, dan bahwa umat ini sudah seharusnya bangkit menunaikan kewajiban menguatkan perjuangan bangsa Palestina untuk pembebasan tanah Palestina dan kesuciannya.
Isu Palestina bukanlah isu politik semata, melainkan bahkan ada di kedalaman akidah umat ini. Betapa tidak, sedangkan di tanah Palestina terdapat kiblat pertama mereka dan tempat isra’ Rasulullah saw. Poin kedua yang disorot oleh beliau –semoga Allah merahmatinya- ialah bahwa resistensi merupakan opsi strategis demi menyukseskan proyek pembebasan, dan bahwa resistensi di tanah Palestina merupakan front terdepan bagi Poros Resistensi dan bahkan bagi seluruh umat Islam. Beliau juga menegaskan:
“Kami di Republik Islam Iran akan terus mendukung resistensi ini sampai harapan bangsa Palestina dan umat Islam terwujud.”
Poin ketiga ialah berkenaan dengan Badai Al-Aqsa yang dilancarkan oleh bangsa Palestina dari Gaza dan di seluruh penjuru negeri Palestina dan front resistensi.
Beliau memandang sebagaimana kami dan semua orang memandang bahwa Badai Al-Aqsa merupakan gempa yang menghantam jantung Zionis.
Badai Al-Aqsa bahkan menciptakan transformasi historis pada level global. Kami dari sini menegaskan bahwa kami bangsa Palestina, dan Gaza nan luhur, yang masih menjalani pertempuran ini, akan terus melakukan perlawanan terhadap musuh ini sampai kami dapat membebaskan negeri kami, seluruh bagian negeri kami, terutama Al-Quds yang diberkahi.
Sebagai penutup, kami menegaskan di hadapan para pemimpin Poros Resistensi dan para pemimpin berbagai faksi resistensi bahwa kami yakin sepenuhnya Republik Islam Iran akan terus berjalan pada kebijakan, strategi dan ketetapannya di bawah naungan pemimpin besar dan para pemimpinnya dalam mendukung cita-cita Palestina dan menyokong kubu resistesi sampai bendera kemenangan dan persatuan berkibar di atas kubah-kubah dan menara-menara Al-Aqsa yang diberkahi. Wassalamualaikum wr. wb.
(mm/sahara)