
Teheran, LiputanIslam.com – Pemikir dan penulis ternama Mesir Fahmi Huwaidi menyatakan bahwa apa yang terjadi di Gaza merupakan bagian dari dialog Arab-Iran, dan bahwa perang yang terjadi di Palestina serta Badai Al-Aqsa merupakan bagian dari buah dialog Arab-Iran yang telah tidak terjadi namun tidak dipublikasikan.
Dalam pidatonya pada pembukaan sesi ketiga dialog Arab-Iran, yang dimulai di Teheran, ibu kota Iran, pada Ahad malam (12/5), Fahmi Huwaidi mengatakan, “Pada minggu pertama Revolusi Islam tahun 1979, saya berada di sini, di Teheran, memulai dialog (Arab-Iran). Saat itu saya beranggapan bahwa saya melakukan suatu kewajiban yang tak perlu waktu 45 tahun untuk kita berdiskusi tentangnya, namun takdir menghendaki waktu berjalan lebih dari empat dekade.”
Dia menambahkan, “Kala itu saya berharap kita menempuh langkah besar dalam dialog Arab-Iran, namun kita masih berada pada langkah awal dalam dialog Iran-Arab tanpa kita mencapai hasil yang diharapkan, atau tanpa mencapai apa yang kita dambakan. Karena itu saya berharap kita dapat menempuh langkah besar dalam dialog. Kita tak perlu meyakinkan diri kita ihwal pentingnya dialog ini. Saya kira kita telah mencapai penguatan hubungan, pertukaran kepentingan, pengajaran bahasa Arab, pengajaran bahasa Persia dan seterusnya. Tapi kita masih berada di titik awal, dan tak mengapa kita memulainya setelah 45 tahun. Namun saya berharap kita tidak memulainya dengan berbicara mengenai pentingnya dialog, karena tema demikian sudah kita putuskan sejak lama.”
Huwaidi kemudian mengatakan, “Saya tak ingin menegur hadirin, sebab saya tak meragukan bahwa kehadiran mereka merupakan ungkapan iktikad baik. Dialog bangsa-bangsa kita berjalan, dan masalahnya terletak bukan pada hadirin, melainkan problema besarnya terletak pada orang-orang yang absen. Saya kira, hadirian sekalian memikirkan orang-orang yang absen di antara mereka yang menghambat dialog dan tidak menginginkannya bergerak maju.”
Huwaidi lantas melanjutkan dengan mengangkat isu Perang Gaza dengan mengatakan, “Betapapun demikian, pengalaman praktis, terutama apa yang disebutkan oleh saudara seniorku, Prof. Nour Syafiq, bahwa pendekatan Palestina, dalam hal ini perang yang terjadi di Palestina serta Badai Al-Aqsa, adalah bagian dari buah hasil dialog, yang tak diumumkan.”
Dia melanjutkan, “Karena itu, ini merupakan satu contoh dari kerja sama tak kasat mata, yang menjurus pada banyak hal yang kita inginkan, dan kita mengharapkannya maju dalam transformasi mendatang, terutama jika kita menyadari dengan kesadaran sejati bahwa dunia pasca 7 Oktober (2023) berbeda, atau sudah seharus berbeda dengan dunia pra 7 Oktober. Atas dasar ini, saya berharap kebersamaan antara pertemuan ini dan dunia baru yang kita harapkan ini menjadi satu langkah positif, yang jika kita tidak mewujudkan apapun di dalamnya maka orang-orang lainlah yang akan mewujudkannya.” (mm/alalam)