Sanaa, LiputanIslam.com – Kelompok pejuang Ansarullah Yaman pada Selasa malam (7/5) bersumpah akan melakukan reaksi dengan “eskalasi yang lebih luas” jika tentara Zionis Israel menyerbu kota Rafah, bagian selatan Jalur Gaza yang berbatasan dengan Mesir.
Ketua Komite Nasional Pendukung Al-Aqsa, yang berafiliasi dengan Ansarullah, Muhammad Miftah, mengatakan, “Eskalasi Zionis di Jalur Gaza dan Tepi Barat, dan ancaman mereka untuk menyerang Rafah, akan berhadapan dengan reaksi Yaman dan penerapan eskalasi tahap keempat.”
Miftah melanjutkan,“Jikaterjadi eskalasi (di Rafah), keputusan Yaman dan Angkatan Bersenjata Yaman sudah jelas dan diumumkan, dan eskalasi yang lebih luas mungkin terjadi.”
Dia menambahkan bahwa eskalasi dari pasukan Yaman akan menjadi “respon terhadap kecerobohan Zionis, baik serangan terhadap Yaman, Gaza, atau tempat mana pun di wilayah pendudukan Palestina.”
Sebagai solidaritas dengan Gaza, pasukan Yaman kubu Ansarullah kerap menyerang kapal-kapal kargo yang terkait dengan Israel di Laut Merah dengan rudal dan drone, selain menyerang kota-kota Israel, termasuk Eilat.
Di pihak lain, koalisi internasional yang dipimpin oleh AS telah menyerang berbagai lokasi yang disebutnya sebagai situs-situs Ansarullah di Yaman sejak Januari lalu.
Miftah mengatakan, “Ancaman Yaman akan membuahkan hasil dan mencapai tujuannya, dan akan memaksa musuh untuk banyak berpikir tentang tindakan selanjutnya, dan meninjau kembali tindakannya, sebelum mengambil langkah apa pun untuk meningkatkan eskalasinya.”
Pada hari Selasa, tentara Israel mengambil alih wilayah Palestina yang melintasi tanah Rafah antara Gaza dan Mesir, sebagai bagian dari apa yang mereka klaim sebagai operasi “ruang lingkup terbatas” yang telah berlangsung di kota tersebut sejak Senin pagi.
Pada hari Senin, Israel mengeluarkan peringatan kepada sekitar 100.000 warga Palestina untuk mengungsi di timur Rafah dan menuju ke daerah non-perumahan Al-Mawasi di barat daya Jalur Gaza. Hal ini tak pelak memicu gelombang kecaman regional dan internasional atas pemindahan paksa ini.
Israel mengklaim bahwa Rafah sebagai “benteng terakhir Hamas,” dan bersikeras untuk menyerang kota ini, meskipun ada peringatan internasional akan dampak buruknya, sebab ada sekitar 1,5 juta warga Palestina di kota ini, termasuk 1,4 pengungsi.
Pada Senin malam, Hamas mengumumkan penerimaannya terhadap proposal gencatan senjata Mesir-Qatar dan perjanjian pertukaran tawanan dengan Israel, namun Israel mengklaim bahwa proposal itu tidak memenuhi persyaratannya, dan Hamas mengirim delegasinya ke Kairo pada hari Selasa untuk menyelesaikan perundingan tidak langsung.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel melancarkan perang di Gaza, menyebabkan sekitar 113.000 orang terbunuh dan terluka, yang sebagian besarnya anak-anak dan wanita, dan sekitar 10.000 orang hilang di tengah kehancuran besar-besaran dan kelaparan yang merenggut nyawa anak-anak dan orang tua.
Israel terus melanjutkan perang meskipun Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan resolusi untuk segera menghentikan pertempuran, dan kendati Mahkamah Pidato Internasional menuntut tindakan segera untuk mencegah tindakan “genosida” dan memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza. (mm/almasirah/raialyoum)