Doha, LiputanIslam.com – Gerakan Hamas mengumumkan bahwa delegasinya akan berangkat ke Kairo, pada hari Sabtu (4/5), untuk menyelesaikan pembicaraan tidak langsung dengan Israel mengenai kesepakatan pertukaran tawanan dan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Hamas dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (3/5), menyebutkan; “Mengingat kontak baru-baru ini dengan saudara-saudara mediator di Mesir dan Qatar, besok, Sabtu, delegasi Hamas akan berangkat ke Kairo untuk menyelesaikan diskusi.”
Hamas menambahkan: “Kami menekankan spirit positif para pemimpin gerakan ini ketika mempelajari proposal gencatan senjata yang baru-baru ini diterima, dan kami akan pergi ke Kairo dengan semangat yang sama untuk mencapai kesepakatan.”
Hamas juga menegaskan; “Kami bertekad bersama dengan kekuatan perlawanan Palestina untuk mematangkan perjanjian tersebut, dengan cara yang memenuhi tuntutan rakyat kami untuk penghentian agresi sepenuhnya, penarikan pasukan pendudukan, pemulangan para pengungsi, pemberian bantuan kepada rakyat kami, dimulainya rekonstruksi. , dan pelaksanaan secara serius atas kesepakatan pertukaran tawanan .”
Senin lalu, Cairo News Channel (swasta) memberitakan bahwa delegasi Hamas meninggalkan Kairo dan akan kembali lagi dengan tanggapan tertulis terhadap usulan Mesir mengenai kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza.
Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry dalam pidatonya di forum internasional di Riyadh mengumumkan adanya proposal dari negaranya di meja perundingan mengenai gencatan senjata di Gaza,dan menyerukan pihak Palestina dan Israel untuk mempelajarinya, tanpa rincian lebih lanjut.
Hal ini terjadi bersamaan dengan laporan eksklusif media Israel, termasuk situs web Walla dan surat kabar Yedioth Ahronoth , tentang kedatangan Direktur CIA William Burns ke Mesir, pada hari Jumat, untuk berpartisipasi dalam pembicaraan kesepakatan mengenai tawanan antara Israel dan kubu pejuang Palestina.
Dengan mediasi Mesir dan Qatar serta partisipasi AS, Israel dan Hamas telah melakukan negosiasi tidak langsung yang gagal selama berbulan-bulan untuk mencapai kesepakatan pertukaran tawanan dan gencatan senjata. (mm/raialyoum)