Nazaret, LiputanIslam.com – Hasil Investigasi baru yang dilakukan oleh surat kabar Israel Haaretz dan dimuat pada hari Kamis (2/5) mengungkap adanya hubungan terselubung antara Indonesia dan Israel.
Investigasi itu mengungkapkan bahwa Singapura tidak memahami bahwa sekutunya, Israel, akan menjual perangkat mata-mata canggih ke suatu negara Islam yang mendukung Palestina, dan bahwa Indonesia membeli peralatan spyware dan pengawasan dari Israel, meskipun tidak terjalin hubungan diplomatik antara keduanya.
Setelah kurun waktu empat tahun, apa yang dikatakan Singapura diketahui benar, karena terlihat jelas bahwa empat perusahaan Israel telah menjual kepada Indonesia peralatan elektronik spionase dengan kemampuan ofensif.
Amnesty International, surat kabar Israel Haaretz, majalah mingguan Indonesia Tempo, dan dua media dari Swiss dan Yunani berpartisipasi dalam investigasi tersebut.
Dalam kurun waktu antara Januari 2019 dan Mei 2022, Amnesty International mencatat 90 serangan digital dilakukan terhadap lembaga dan aktivis masyarakat sipil di Indonesia, dengan jumlah korban mencapai lebih dari 148 orang, termasuk jurnalis, pembela HAM, aktivis lingkungan hidup, pelajar dan pengunjuk rasa.
Serangan digital ini mencakup upaya membobol akun pribadi seseorang dan gangguan.
Berdasarkan penelusuran, lima perusahaan spionase siber diketahui terkait dengan berbagai institusi di Indonesia. Salah satu perusahaan tersebut adalah Fun Fisher Jerman yang bersaing dengan perusahaan Israel yang bergerak di bidang ini.
Sebuah kelompok HAM bernama Access Now mengungkap aplikasi mata-mata untuk ponsel Android yang dikembangkan oleh perusahaan Jerman dan dijual ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Investigasi itu juga mengungkap bukti bahwa di Indonesia terdapat aktivitas perusahaan Tentigo, salah satu perusahaan senjata elektronik Israel yang kurang dikenal. Aktivitas dan ekspor perusahaan ini berada di bawah pengawasan Otoritas Ekspor Pertahanan Israel.
Tentigo telah mengembangkan dan menjual spyware yang dinamai Helios, bersama dengan sistem intelijen digital lainnya yang tidak terlalu mengganggu.
Data pengiriman dan perdagangan menunjukkan bahwa perangkat dengan nama yang sama dengan yang dijual oleh perusahaan Israel dikirim ke Indonesia melalui dua perusahaan di Singapura, dengan nilai total sekitar US$ 6 juta atau setara Rp. 96,5 miliar.
Sebelumnya, sebuah perusahaan Israel pernah mengungkapkan di media sosial bahwa pihaknya bekerja sama dengan Polri dan menjual Android Helios dan sistem intelijen web taktis.
Investigasi itu mengungkapkan bahwa di Indonesia juga terdapat aktivitas perusahaan Israel lainnya, Candiru, yang oleh AS telah dicantumkan dalam daktor hitam sebagaimana NSO Group setelah terjadi penyalahgunaan teknologinya oleh kliennya.
Perusahaan ini menjual perangkat mata-mata yang dapat meretas dan menembus sistem komputer dan ponsel. Sebelumnya diberitakan, Indonesia menjadi salah satu klien perusahaan tersebut. Sumber-sumber Israel mengonfirmasi bahwa “perjanjian mereka pada tahun 2018 telah disetujui oleh Kementerian Pertahanan.”
Investigasi baru mengungkapkan setidaknya tiga pengiriman perangkat keras dan perangkat lunak terkait dengan sistem spionase intelijen siber dari tahun 2020 hingga 2021, dan pengiriman ini sesuai dengan teknologi yang sebelumnya dijual oleh Candiru seharga US$ 33 juta atau setara Rp 531,1 miliar.
Berdasarkan penyelidikan itu, NSO Group Israel aktif di Indonesia sebelum pemerintahan Biden memasukkannya ke dalam daftar hitam. Investigasi sebelumnya menunjukkan bahwa Indonesia mungkin menggunakan spyware Pegasus NSO, sementara penyelidikan saat ini tidak dapat memastikan bahwa spyware tersebut dijual ke pihak tertentu di Indonesia.
Laporan itu menyebutkan bahwa apa yang disebut “diplomasi dunia maya” yang dilakukan oleh Israel mencakup penjualan spyware dan alat pengawasan canggih secara mudah dan luas ke negara-negara non-Barat, yang memungkinkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab, Islam, dan Afrika.
Dari sudut pandang ini, ada kemungkinan bahwa Netanyahu menggunakan “diplomasi siber untuk menjalin hubungan dengan Indonesia,” menurut investigasi tersebut.
Investigasi itu mengungkapkan situs web dan alamat IP di Indonesia yang terkait dengan perusahaan Israel Intellexa, dan “yang tampaknya telah digunakan untuk menargetkan orang-orang di Indonesia dengan menggunakan spyware Predator yang terkenal dari perusahaan tersebut.”
Situs web dan alamat IP tersebut juga mencakup situs berita palsu, termasuk situs yang tampaknya meniru situs oposisi.
Bulan lalu, indikasi keterkaitan atau hubungan antara Jakarta dan Tel Aviv kembali mencuat ke publik. Israel mengizinkan pesawat Indonesia mengirimkan bantuan dari udara ke Gaza.
Menurut laporan di Israel, Jakarta saat ini terbuka terhadap gagasan normalisasi dengan Tel Aviv. (mm/raialyoum/haaretz)