Gaza, LiputanIslam.com – Sumber-sumber faksi perlawanan Palestina di Gaza meminta para perunding mereka di luar negeri untuk tidak menganggap pertempuran Rafah sebagai momok terbesar.
Dilaporkan bahwa Pemimpin Hamas Yahya Al-Sinwar dan Panglima Brigade Al-Qassam, Muhammad Al-Daif, telah berpesan kepada para perunding kubu resistensi mengenai kesiapan penuh para pejuang di Gaza menghadapi skenario militer yang meningkat di Rafah, apa pun yang akan terjadi.
Dalam pesan itu terdapat desakan langsung kepada para politisi perlawanan untuk tidak memberikan konsesi berdasarkan keinginan mencegah pertempuran di Rafah.
Hal ini mendorong Khalil Al-Hayya belum lama ini menyatakan bahwa berbagai sayap militer faksi-faksi pejuang Palestina di Gaza telah sepenuhnya siap menghadapi pertempuran Rafah, dan tidak benar jika mereka kehilangan kemampuan dan kendali.
Menurut laporan Rai Al-Youm, Jumat (26/4), “pesan internal” itu berbicara tentang kesiapan yang besar untuk menghadapi pertempuran tersebut, sama seperti pertempuran di Khan Yunis dan Gaza utara, dan musuh membesar-besarkan dan mempolitisasi ancamannya untuk melancarkan operasi militer besar-besaran di kota Rafah.
Di pihak lain, seorang pejabat senior pemerintah Israel pada hari Jumat menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak ingin mencapai kesepakatan dengan faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza, dan menciptakan hambatan terhadap kemungkinan penyelesaian.
“Netanyahu sama sekali tidak ingin mencapai kesepakatan, dan justru menciptakan kesulitan dan hambatan,” ungkap pejabat itu, seperti dikutip lembaga penyiaran Israel.
Pejabat itu juga mengatakan: “Adalah mungkin untuk mencapai kesepakatan (dengan faksi-faksi Palestina) dalam beberapa hari ke depan, tapi Netanyahu meminta untuk mempelajari kesepakatan yang komprehensif (selain tawaran yang saat ini diajukan oleh pihak Mesir) dengan tujuan menghalangi proses pencapaian kesepakatan saat ini.”
Sebelumnya di hari yang sama, delegasi keamanan Mesir memulai kunjungan ke Tel Aviv membawa “proposal bagi negaranya untuk menangani pembebasan semua tawanan Israel di Gaza, pembebasan ratusan tahanan Palestina, dan gencatan senjata satu tahun,” menurut laporan surat kabar Israel Yedioth Ahronoth.
Lembaga penyiaran Israel menyatakan; “Dinas keamanan Israel percaya bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk memulangkan para tawanan dari Gaza.” (mm/raialyoum)