Beirut, LiputanIslam.com – Sekjen Hizbullah, Sayid Hassan Nasrallah, dalam pidatonya pada momen Hari Al-Quds Sedunia, Jumat (5/4), menegaskan bahwa serangan Israel terhadap Konsulat Iran di Damaskus, ibu kota Suriah, merupakan insiden krusial yang akan berbuntut panjang.
“Yakinlah bahwa balasan Iran mengenai masalah konsulatnya pasti akan terjadi dan takkan terelakkan lagi,” tegasnya.
Sayid Nasrallah menyebutkan bahwa upaya melelahkan musuh dalam penentuan waktu, tempat, dan karakteristik perang berupa “perang orang yang kehilangan akalnya, dan perang para penjagal dan penjahat” merupakan bagian dari peperangan.
“Ketidakmampuan untuk menutup front lain, termasuk Lebanon, Yaman, dan Irak, adalah sebuah pencapaian (bagi Poros Resistensi), dan (Perdana Menteri Israel, Benjamin) Netanyahu serta koalisinya tidak punya pilihan selain menghentikan perang, dan ini merupakan kerugian bagi mereka,” sambungnya.
Sekjen Hizbullah menambahkan, “Hari ini kami menyatakan komitmen kami, pendirian kami, perlawanan kami, dan harapan besar kami. Para syuhada agresi Israel di Damaskus belakangan ini memiliki nilai historis bagi kami. Kesyahidan dari orang-orang tercinta ini merupakan perkara besar bagi kami, terutama Brigjen Zahedi atas kiprahnya yang besar bagi kubu resistensi di Lebanon. Peristiwa ini menjadi pemisah antara babak sebelumnya dan babak sesudahnya.”
Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Deklarasi Imam Khomeini atas dukungannya kepada perjuangan Palestina merupakan salah satu faktor terpenting dari perang yang dialami Iran, dan Republik Islam ini melakukan pengorbanan besar demi pendirian ini, secara ekonomi, politik, dan keamanan, dan takkan pernah bernegosiasi dengan Amerika mengenai isu-isu kawasan (Timteng).”
Dia juga menjelaskan, “Ada orang-orang yang tidak dapat menerima bahwa Israel sedang dikalahkan di kawasan dan tidak dapat memahami hal ini. Bangsa-bangsa Poros Resistensi dapat menang melawan musuh, Zionis, namun orang-orang yang terpedaya tidak melihat hal ini akibat kebodohan mereka. Ketika Yaman mulai menyerang kapal-kapal yang terkait dengan musuh, Israel ,di laut, sebagian orang di Teluk (Persia) menganggap ini sebagai skenario dan sandiwara. Hubungan dengan Iran serta menjalin aliansi dengannya merupakan kebanggaan, kehormatan dan martabat kemanusiaan di zaman sekarang.”
Dia menambahkan, “Orang yang seharusnya merasa malu adalah orang yang melakukan normalisasi dengan Israel dan membenarkan kejahatan-kejahatannya, dan orang yang harus merasa malu adalah orang yang harus mengetahui bahwa Amerika berada di balik kejahatan di semua negara di kawasan ini.”
Sekjen Hizbullah menyebutkan, “Masa sebelum Badai Al-Aqsa tidaklah sama dengan masa setelahnya di semua level mengenai lawan dan kawan, kawasan dan dunia, dan yang lebih penting lagi, Israel menerima hasil ini. Badai Al-Aqsa menempatkan kelangsungan hidup dan eksistensi Israel dalam bahaya dan mengungkap kerapuhan, kelemahan, dan kegagalan keamanan, politik dan mentalnya.”
Sayid Nasrallah juga mengatakan, “Evaluasi Amerika-Israel mengkonfirmasi bahwa apa yang terjadi pada tanggal 7 Oktober nyaris menghancurkan entitas musuh (Israel), dan perang ini adalah perang orang yang sudah kehilangan akalnya, dan ini merupakan salah satu faktor kegagalannya dalam perang, karena entitas musuh tidak mengelola perang ini dengan akal. Setelah 6 bulan perang, Netanyahu, (Menhan Israel Yoav) Galant dan banyak lainnya kehilangan akal mereka.” (mm/raialyoum)