LiputanIslam.com –Tragedi yang menimpa warga Gaza, Palestina, pasca digelarnya aksi Taufan Al-Aqsha tanggal 7 Oktober sudah berlangsung lebih dari enam bulan, dan perang masih jauh dari kata usai. Aksi genosida yang digelar Zionis Israel sudah menelan korban nyawa lebih dari 30.000 jiwa, sebagian besarnya adalah warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Jika ditarik lebih jauh lagi, aksi penjajahan Zionis Israel atas bangsa Palestina sudah berlangsung 76 tahun. Jutaan nyawa warga Palestina melayang. Tanah mereka dirampas dan mereka harus hidup terlunta-lunta sebagai bangsa yang terusir dan bangsa yang sedang dijajah.
Adalah sangat wajar jika banyak banyak pihak bertanya-tanya: kapan semua tragedi ini akan berakhir? Kapan bangsa Palestina akan merdeka? Kapan jutaan pengungsi itu bisa kembali ke negeri yang menjadi hak mereka?
Dalam sejarah perjuangan menegakkan kebenaran, sebagaimana yang diinformasikan Al-Quran dan juga berbagai riwayat, waktu yang diperlukan untuk proses penegakkan kebenaran itu memang bervariasi. Ada yang relatif sebentar, tapi kebanyakan memang membutuhkan waktu yang sangat lama. Misalnya, perjuangan Baginda Nabi Muhammad SAW menegakkan ajaran Islam bisa dikatakan relatif cepat, yaitu 23 tahun. Sementara itu, perjuangan Nabi Nuh as membutuhkan waktu sampai lebih dari 900 tahun, dengan jumlah pengikut yang tak seberapa.
Variasi juga muncul dari sisi hasil perjuangan. Ada yang betul-betul berhasil seperti yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, Nabi Yusuf as, Nabi Daud as, dan beberapa nabi lainnya. Ada yang “setengah” berhasil, seperti Nabi Musa as dan Nabi Harus as. Keduanya berhasil menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Firaun. Tapi, pada akhirnya, Bani Israil melakukan pembangkangan saat diperintahkan memasuki Palestina, dan akhirnya, mereka tersesat di Lembah Tih, untuk kemudian meninggal di kawasan itu. Perjuangan Nabi Sulaiman as juga bisa dikategorikan ke dalam kelompok yang setengah berhasil ini, karena menurut sejumlah riwayat, Nabi Sulaiman as meninggal dalam kondisi munculnya pembangkangan massal Bani Israil terhadap Nabi Sulaiman.
Bahkan, sejarah juga mencatat sejumlah perjuangan para nabi yang berakhir dengan tragedi. Nabi Zakaria as dibunuh dengan cara digergaji. Kepala Nabi Yahya as dipenggal oleh tentara Herodes. Nabi Isa as juga dikejar-kejar untuk dibunuh, tetapi diselamatkan oleh Allah SWt dengan cara diangkat ke langit. Para nabi yang lain juga harus mengakhiri misi kenabiannya dengan meninggalkan kaumnya, di mana kaumnya itu kemudian ditimpa azab. Itulah yang terjadi pada Nabi Nuh as, Nabi Hud as, Nabi Saleh as, Nabi Luth as, dan banyak nabi lainnya.
Itulah kisah perjuangan sebagian besar para nabi. Perjuangan kebanyakan dari mereka amat sangat berat. Sebagiannya memang berjuang dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama, dan perjuangan mereka juga berakhir dengan keberhasilan. Tapi, seberapapun pendeknya masa perjuangan para nabi itu, dan seberhasil apapun perjuangan mereka, tetap saja sunnatullah menunjukkan bahwa tak ada satupun dari perjuangan mereka itu yang sifatnya mudah. Semuanya pasti berat, dengan tantangan yang luar biasa. Bahkan di dalam Al-Quran, sedemikian beratnya perjuangan mereka itu, sampai-sampai, mereka saling bertanya satu sama lain, kapan pertolongan Allah itu akan tiba.
“Ataukah kalian mengira bahwa kalian akan (dengan mudahnya) masuk surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kalian. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 124).
Ayat ini menyindir orang-orang yang secara keliru mengia bahwa masuk surga itu sangat mudah. Tidak, kata Al-Quran. Syarat agar bisa masuk surga, menurut ayat di atas, adalah menjalani perjuangan dan ujian yang berat. Jenis ujian dan perjuangannya disebutkan secara jelas, yaitu kemiskinan, penderitaan, dan guncangan keyakinan. Waktu perjuangan dan ujiannya bisa dipastikan sangat lama. Jika waktunya hanya sebentar, tak mungkin orang-orang selevel nabi dan para pengikut setianya akan bertanya-tanya terkait kapan datangnya pertolongan Allah.
Jadi, ketika perjuangan membela Palestina disebut sebagai perjuangan yang hakiki, di mana di dalam perjuangan tersebut ada idealisme dan pelaksanaan tanggung jawab agama, para pendukung sejati perjuangan tersebut haruslah siap dengan ‘nafas panjang’, konsistensi, dan kesabaran. Masa yang panjang dan kesabaran itu memang sesuai dengan sangat beratnya masalah Palestina ini, juga sangat berharganya nilai perjuangan membela bangsa tertindas itu. Palestina adalah simbol kekuatan kubu kebenaran di era saat ini. Musuh yang dihadapi juga merupakan simbol kejahatan di era modern, karena di belakang Zionis Israel ada kekuatan kapitalisme dan imperialisme modern yang saat ini menjadi musuh utama kemanusiaan dan keadilan. Artinya, jika Palestina berhasil kita menangkan, dan Zionis Israel kita kalahkan, akan terjadi perubahan yang sangat besar di dunia ini.
Maka, konsistensi menjadi jawaban atas masalah Palestina. Aksi solidaritas Al-Quds yang terus digelorakan tiap Jumat terakhir di bulan suci Ramadhan bisa digolongkan ke dalam model perjuangan yang bersifat konsisten tersebut. Sejak aksi solidaritas itu dicanangkan oleh pemimpin spiritual Iran Ayatollah Khomeini lebih dari 40 tahun lalu, aksi Yaumul Quds terus digelar dalam situasi apapun.
Ya, perjuangan membela Palestina memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, seperti yang disampaikan oleh ayat 124 surah Al-Baqarah di atas, pada akhirnya, pertolongan Allah pasti tiba bagi bangsa Palestina, dan momen itu akan menjadi kemenangan para pecinta kebenaran dan keadilan di seluruh dunia. (os/li)
